Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Monday, September 7, 2015

JATIM PARK 1 DAN MUSEUM BAGONG

Hari kedua di Batu dimulai penuh semangat. Bagaimana tidak, rencana kunjungan yang amat panjang. Setelah sarapan di hotel, kami memulai perjalanan (benar-benar jalan kaki) sekitar lima belas menit menuju Jatim Park Satu. Kalau kemarin kami belok kiri dari hotel ke Museum Angkut, kini kami belok kanan.


Petugas penjual secara aktif mendatangi pengunjung yang baru tiba di lokasi dan menawarkan tiket masuk. Ini benar-benar menghemat waktu dan tenaga pengunjung, dibandingkan harus pergi ke loket yang ada di sisi kanak. Petugas itu juga menyampaikan promo tiket terusan untuk beberapa lokasi di Jatim Park sekaligus dengan diskon yang bagus. Tertarik membeli tiket terusan, saya di ajak ke loket pembelian. Di dalam loket ada petugas yang menjelaskan keuntungan tiket terusan yang berlaku selama dua hari dan batasan-batasannya. Ia juga memberi saran lokasi yang patut dikunjungi di hari pertama dan hari kedua.




Dengan gelang plastik sebagai tanda tiket terusan, kami masuk ke Jatim Park Satu. Tampilan pertama lebih mirip Taman Mini Indonesia Indah dalam bentuk super miinya, bertbagai anjungan rumah adat dan baju tradisional mereka. Membosankan, tapi jangan berhenti di situ. Lanjutkan ke lokasi berikutnya yang merupakan galeri sains, mengenai biologi, fisika dan kimia. Galeri ini ditampilkan sedemikian rupa sehingga pengunjung terlibat dalam berbagai aktivitas, tidak sekadar melihat. Mengikuti jalur yang sudah ditentukan, kami melihat diorama yang menggambarkan sejarah.
 



Selain itu juga tersedia wahana outdoor dengan berbagai pilihan. Di dekat jalan masuk, tertulis ketentuan seperti batas tinggi badan, usia dan berat badan. ketentuan seperti ini yang menyebabkan Ari dan Adek tidak bisa sama-sama menikmati beberapa wahana. Selisih tinggi, berat badan dan usia mereka cukup banyak, yang satu murid kelas lima, yang satunya lagi mahasiswa tingkat satu. 

Mendekati pintu keluar, ada bagian agro. Nah dibagian ini Ari dan Adek banyak protes karena tanaman yang ditampilkan tidak menunjukkan tingkat kesehatan yang prima. Daun kuning dan kering dan batang pohon kurus.

Toilet tersebar di beberapa tempat dengan petunjuk yang jelas. Mesjid juga tersedia dengan kebersihan terjaga. Tempat duduk juga banyak disediakan, lumayan untuk meluruskan dengkul dan mengendurkan otot betis. Huaaa. Untuk makan siang pun, tidak perlu ke luar lokasi karena di sana tersedia tempat untuk membeli makanan. Jadi, bisa deh, seharian di sini. Eh, ampe jam tutup aja, maksudnya.

Jalan keluar dari Jatim Park Satu ini sangat melatih kesabaran, berbelok-belok melewati pertokoan. Untuk yang berniat belanja-belanji pasti menyenangkan. Jalan sambil melihat-lihat barang belanjaan. Tapi untuk pengunjung dengan keterbatasan waktu seperti kami, jalan berliku diantara pertokoan ini membuat hati menjerit. Capek booo!





Tiba di pelataran, kami didekati petugas. ia dengan ramah menunjukkan Museum Bagong yang tampak jelas dari pelataran. Patung Bagong di sebelah depan bangunan sangat atraktif, seakan melambai-lambaikan tangan mengajak masuk. Tiket masuk museum ini sudah termasuk tiket terusan.

Di bagian depan kami dihadapkan dengan gigi raksasa yang terlepas dari rahang. Hahaha, ini tempat penjualan makanan dan 'gigi-gigi' tadi berfungsi sebagai tempat duduk. Lagi-lagi, Ari seperti tidak bisa melewatkan tempat ini begitu saja. Kudu mampirlah, kunyah satu barang dua makanan.

Untuk melihat koleksi di Museum Bagong, pengunjung masuk ke dalam lift. Ada petugas yang mengarahkan, sehingga alur jalannya pengunjung teratur, tidak akan melewatkan satu galeri tanpa sengaja.

Apa isinya museum bagong? Ya, isi badan manusia lah, dilengkapi dengan alat bantu visual. Juga ada petugas yang menjelaskan cara kerja organ tubuh manusia. Lagi-lagi di sini banyak bagian yang bisa dijadikan bahan ajar interaktif.

Ada satu ruangan yang dijaga petugas. Hanya pengunjung yang telah berusia 18 tahun yang boleh masuk. Dengan meninggalkan Adek di luar, dekat petugas, saya dan Ari masuk ke dalam ruangan tertutup itu. Isinya organ manusia yang ditampilkan apa adanya. Ada otot yang terburai, isi rongga dada. Menurut petugas, koleksi ini merupakan organ manusia yang diawetkan, bukan replika. Buru-buru saya mentowel Ari dan bilang, "Uncu tunggu di luar." Dan keluarlah saya! Aih, saya tidak tega.

Menjelang akhir ngider di Museum Bagong, kami masuk ke ruang pemeriksaan. Di sini pengujung bisa memeriksa tekanan darah, mata, kadar gula, dan lain-lainnya tanpa membayar. Saat itu, hanya Adek saja yang mau memeriksakan matanya dan ternyata ia sudah harus menggunakan kaca mata minus. Waks.

Keluar Museum Bagong, hari sudah sore. Angin bertiup lembut, tapi terasa dingin. Ketika menuruni tangga, Ari dengan cekatan mengarahkan saya dan Adek ke tempat penjual bakso. Hanya seorang yang berjualan bakso, tapi pembelinya banyak. Antri deh menunggu pesanan datang. Baksonya memang enak, dagingnya empuk dan gurih. Kuahnya bening dan tidak berlemak. Memang menyenangkan makan baksa hangat di dalam udara dingin seperti itu. Enggak rugi sampai menunggu lama.
Selanjutnya kemana? Kembali ke hotel? Oh, belum. Masih ada satu lokasi lagi yang perlu dikunjungi. :)


Sunday, September 6, 2015

MUSEUM ANGKUT

Setelah meletakkan koper dan barang bawaan lainnya di hotel, saya, Ari dan Adek berjalan kaki menuju Museum Angkut. Berdasarkan google maps, lokasi museum itu hanya sekitar sepuluh menit jalan kaki dari hotel. Jalan di siang hari bolong, di bawah teduhnya pohon-pohon besar. Apa rasanya? Enak-enak aja tuh *nyengir*. Apalagi sepanjang perjalanan, kami bisa menikmati pemandangan indah.


Petunjuk arah sangat jelas, sehingga tampak loket yang musti didatangi. Kami langsung disambut dengan senyum manis petugas loket Museum Angkut yang sangat informatif, menyebutkan fasilitas dan promo yang ada, termasuk diskon jika memiliki boarding pass Garuda. Huaaa, langsung tangan menyelup ke dalam tas dan bongkar-bongkar isinya. Akhirnya ditemukanlah tiga boarding pass itu di dalam tas, terlipat dan terhimpit komik dan dompet. Alhamdulillah. Padahal biasanya boarding pass langsung dibuang setibanya di kota tujuan. Rejeki emang enggak kemana.

Museum Angkut terdiri dari dua lantai. Koleksi museum di lantai satu terdiri dari berbadai sepeda, sepeda motor dan mobil, termasuk motor dan mobil balap. Juga ada miniatur kendaraan-kendaraan yang disimpan dalam lemari kaca. Di lantai dua, koleksinya juga tidak kalah menarik. Tidak hanya barang-barang koleksi, informasi mengenai alat transportasi juga disajikan dengan cara yang menarik dan mudah dimengerti. Di bagian luar ada bangunan yang menyerupai roket dan pengunjung bisa masuk ke dalamnya. Walau ditunggu sampai sepuluh abad, roket itu tidak akan meninggalkan landasan. Jadi enggak usah nunggu deh.

Di sebelah dalam, pengunjung bisa melihat berbagai macam gerobak kayu. Bentuknya sangat variatif, sesuai daerah asalnya. Ada perahu dan mobil listrik-nya Dahlan Iskan yang penyok itu (eh, apa ini replika ya?). Di lantai yang sama, terdapat berbagai permainan interaktif seperti menentukan suara kendaraan, kecepatan kendaraan, dll. Permainan ini bisa mengasikkan untuk remaja 17 tahun dan anak umur 10 tahun.


Setelah jalan yang menurun, di bagian luar ada movie star studio, lokasi yang bersetting tempo doeloe dan luar negeri, ada bangunan-bangunan unik ala Eropa dan Jakarta dulunya.  Ada juga Pasar Apung yang menyediakan berbagai jenis suvenir makanan. Untuk menikmatinya, tentu saja pengunjung musti beli. Di salah satu kios, saya menemukan yoghurt yang enak banget. Eh, bukannya semua yoghurt itu enak yak? :D

Kunjungan hari pertama dicukupkan sampai malam hari. Setelah puas melihat-lihat, perut kenyang dan kaki pegal, kami berjalan kembali ke hotel. Udara dingin membuat langkah kaki semakin cepat dan semakin cepat, terlebih dengan jalanan yang menurun. 

Wednesday, April 8, 2015

PASAR ADA DI MANA-MANA

Pasar, nama sederhana tapi menjadi magnet untuk dikunjungi. Saya seringkali mencari kesempatan untuk berkunjung ke pasar, terlebih pasar di daerah atau kota kecil. Selain untuk melihat produk lokal yang unik, demi melihat interaksi penduduk setempat. Apalagi kalau sempat mendengar celetukan-celetukan khas mereka.

Pada salah satu tugas di Cirebon, mendadak saya membutuhkan bengkoang. Sejak beberapa tahun lalu, saya mewajibkan diri makan bengkoang, guna membantu badan menyerap vitamin C lebih baik lagi.. Kembali ke cerita tentang pasar. Demi mencari bengkoang, saya pergi ke pasar tradisional yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari hotel. Ternyata ada keunikan lain. Di sana banyak penjual bawang yang telah diiris dan cabe merah yang juga diiris-iris tipis. Asumsi, bawang merah itu untuk diolah jadi bawang goreng yang banyak dijadikan oleh-oleh dari Cirebon. Sedangkan cabe merah iris, itu untuk taburan nasi jamlang. Moga ini asumsi benar dan tidak menyesatkan.


Pasar Tomohon, ckckck. Ini sungguh kunjungan pasar untuk uji nyali. Jarak tempuh dari hotel juga cukup jauh, beda kota, booo. Tinggal di Manado, lalu ke pasar di Minahasa, sekitar 80 menit perjalanan deh. Penjual sayur, buah, bunga tentu mirip dengan pasar lainnya. Di sini mudah sekali ditemui paku. Iya, paku disini di masak, biasanya diberi tambahan ikan cakalang fufu. Mantap. Eits, sayur paku yang disebut ini biasa disebut pakis. Hmm, terbayang bentuk dan rasanya kan? Untuk bagian daging, banyak
pengecualian. Selain daging yang umum ditemui di pasar-pasar di Jakarta, di sini juga mudah mendapatkan kelelawar, ular, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Banyak macamnya.



Purwokerto lain lagi. Kala itu saya ke pasar bukan untuk urusan bengkoang.Ini semata-mata kunjungan karena ada wakstu lebih sebelum jadwal kereta untuk balik ke Jakarta. Mata tetuju pada penjual tempe yang banyak tersebar di pasar, mereka tidak ditempatkan berkelompok, seperti penjual daging (emang bukan daging tempe). Nah, selain tempe yang berukuran tebal, juga ada tempe-tempe yang dibungkus. bungkusannya begitu tipis sehingga saya penasaran dengan isinya. Eh, apa ada isinya? Satu bapak penjual langsung membuka bungkusan itu dan tampaklah kacang kedele yang tersebar dalam bungkusan itu. Kacang kedelenya bisa dihitung, cukup jari di satu tangan saja, tapi lapisan putih yang kayak awan itu memenuhi bungkusan. Ternyata itu tempe khusus untuk mendoan. Baiklah, beberapa bungkus tempe mendoan ikut dibawa pulang ke Jakarta.


Pasar di Tiku beda lagi. Di Tiku sendiri ada tempat  bernama Pasar, yang isinya ya pemukiman gitu, rumah-rumah. Tempat jual beli disebutnya Balai. Untuk urusan nama ini, beberapa kali saya sukses bikin orang-orang bingung. Ketika bilang, saya mau ke 'pasar', tapi saya menunjuk ke arah balai. Lalu bilang di 'pasar' enggak ada yang jualan. Keunikan lain, pasar (yang penduduk lokal sebut sebagai balai) di sana hanya aktif pada hari Senin. Selebihnya lokasi pasar itu sepi. Pada hari Senin, pedagang dari berbagai daerah datang, seperti dari Bukittinggi yang membawa truk berisi sayur dan buah.
Setelah berjualan, mereka kembali ke daerah masing-masing dan akan datang kembali hari Senin berikutnya. Rapih dan teratur, seperti bebek-bebek yang berjalan pulang dari sungai. Hal yang berbeda dengan penjual lokan dan langkitang (sejening kerang). Kala itu ada lima penjual, semuanya ibu-ibu usia sekitar 50 tahun datang di lokasi pasar hari Jumat dari tempat yang cukup jauh (lupa nama lokasi asal mereka), membawa karung-karung plastik besar berisi barang dagangan. Mereka juga tidur di lokasi pasar. Biasanya menjelang hari Senin, barang dagangan mereka hanya tinggal sepertiga. Hubungan antar mereka sangat erat. 
Suatu kali saya lihat seorang penjual yang membantu membereskan karung dagangan langkitan temannya yang bocor. Akibatnya, langkitang-langkitang itu piknik hingga ke jalan (mustinya kan piknik di atas rumput, hehehe). 

Lalu bagaimana wujud pasar selain hari Senin? Sepi, walau ada beberapa toko kelontong di dekat pasar yang tetap buka.

Thursday, January 1, 2015

KUDUS: RM Sari Rasa

Saya dan Tari, teman jalan di Kudus, datang ke rumah makan yang terletak di Jalan Agil Kusumadya no. 20 ini ketika jam makan siang telah lewat. Pelayan masih sibuk membereskan meja yang bekan digunakan tamu sebelumnya. sisa makanan berceceran tidak hanya di meja tapi juga di lantai. Agak-agak gimana melihat pemandangan seperti itu.


Ruangan yang besar tanpa penyekat, memudahkan tamu memanggil pelayan dan segera melihat ketika pesanan datang. Saat itu, garang asem daging ayam incaran kami habis, yang tersisa jerohan. Selain garang asem, rumah makan ini juga menyediakan menu lainnya, seperti tahu telur, soto ayam dan ayam goreng.

Pesanan datang dalam keadaan terbungkus daun pisang, mengepul dan aroma segar tercium jelas. Satu bungkus garang asem ini berukuran besar untuk dinikmati oleh satu orang. Isinya padat, jerohan ayam, potongan tomat muda dan rawit. Kuahnya bening, ada rasa asam dan pedas. Benar-benar menyegarkan. Cocok dimakan di kala cuaca panas atau dingin.


Selagi kami makan, di meja sebelah ada tamu yang baru datang. Mereka memesan garang asem daging ayam dan mendapatkannya. Ternyata, ketika menu dinyatakan habis, itu artinya menu tersebut masih dalam proses pemasakan, belum siap untuk disajikan. Dan tamu bisa saja menunggu. Lain kali, lain kali :D

Saturday, December 27, 2014

MANADO: Bukit Kasih

Salah satu tujuan lain yang kami, saya, Srisna dan Umi, tuju bersama Didi ialah Bukit Kasih. Untuk lokasi ini, tampaknya Didi hapal, tidak perlu bertanya. Well done.
Bukit Kasih tidak terlalu jauh dari Manado, sekitar 40 menit perjalanan dengan mobil. menggambarkan kerukunan lima agama yang ditunjukkan dengan menara putih, yang setiap sisinya menggambarkan satu agama.

Ketika kami  datang, hujan sedang turun dengan intensitas sedang. Eh, udah mirip pembawa ramalan cuaca? Beberapa ibu-ibu mengikuti kami untuk menjajakan perhiasan seperti cincin dan kalung. Ada juga anak-anak kecil yang secara terus-menerus menawarkan jasanya untuk mengambilakn foto dengan sudut tertentu. Sungguh-sungguh mengurangi kenyamanan kunjungan. Seandainya petugas memberikan tempat khusus bagi penjaja dagangan dan layanan, mungkin hasilnya akan lebih bagus.

Anak-anak itu juga membujuk kami untuk naik ke puncak bukit kasih dengan ratusan anak tangga. Duileeeee. Melihat kami tersenyum pasrah sambil menggeleng, anak-anak itu melanjutkan bujukan- tidak-maut mereka: "Dengan niat pasti bisa mencapai puncak." Wah, kami bukannya termotivasi, malah ngakak.

Eh, tidak hanya itu, dari tempat yang tinggi terdengar suara memanggil pengunjung (baca: kami) untuk mengisi buku tamu. Panggilan itu terus-menerus terdengar hingga saya masuk mobil untuk pulang. Yang ada, panggilan itu membuat kami senyum kecut. Dan dimanakan buku tamu itu berada? Yup, di tempat yang tinggi. Perlu menaiki sekitar 50 anak tangga lapis keramik dan basah untuk mencapai buku tamu itu.  Apa petugas tidak pernah berpikir untuk memindahkan buku tamu di areal bawah?

Ini kunjungan tersingkat, kurang dari sepuluh menit, untuk areal yang luas.

Friday, December 26, 2014

Perjalanan Sepasang Sepatu

Kisah ini bermula pada akhir tahun 2011. Setelah pertemuan singkat untuk bertukar haha dan hihi dengan Iyes dan mba Yud di Pejaten Village, saya dan mba Yud memutuskan untuk mengitari pertokoan ini barang sekedip dua kedip. Sebenarnya dalam lubuk hati terdalam, kami berdua memerlukan sepatu baru untuk jalan atau olah raga ringan. Masuklah kami berdua ke toko sepatu. MbaYud bergerak ke sebelah kiri dan saya ke sebelah kanan, masing-masing diikuti oleh pelayan toko. Ini nih yang sering bikin beberapa pembeli seperti saya risih: dibuntuti pelayan toko. Mungkin maksudnya agar siaga membantu, tapi ya, begitu rasanya. Risih.

Sambil menunggu pelayan mengambilkan nomor sepatu pesanan, saya duduk di samping mba Yud yang terlebih dulu menunggu pesanan sepatunya. Ketika sepatu kami tiba, tawa gelak pun tersembur. Betapa tidak. Kami memesan sepatu yang sama, dengan nomor sepatu yang berlainan. Sepatu itu hanya tersedia dalam satu warna: biru tua dan sol berwarna putih. Jadilah saya dan mba Yud membeli sepatu yang sama.

Perjalanan jauh sepatu saya ini ke tanah suci ketika menemani orang tua umroh pada awal tahun 2012. Warna biru tua  tampak cerah dan sol bersih mulus. Sol sepatu yang empuk membuat sepatu ini nyaman digunakan. Tidak pula membutuhkan waktu lama untuk memakai dan melepaskannya. Cukup lekukkan jari kaki, dan sepatu terlepas. Bagian atas sepatu terbuat dari kanvas. Bagian depan cukup luas, sehingga jari-jari kaki bisa latihan silat, balet atau menjentik.

Sepatu yang sama juga mengantar saya ke Manado pada tahun 2013 untuk acara reuni dengan teman-teman SMP. Warna biru sudah mulai pudar, tetapi sol masih empuk dan nyaman untuk tumit. Sol yang terbuat dari karet agak tidak kompak dengan rumput yang basah. Sekali waktu ketika di danau Linou, saya hampir terpeleset.

Kemudian sepatu yang sama juga menemani saya ketika menemui 'David Beckham' untuk olah raga ringan di Bangkok. Enak, sol sepatu sama sekali tidak mengganggu pergerakan badan.

Saya juga mengajaknya untuk melihat Kawah Putih, ke Tiku(Sumatra Barat) dan terakhir pada perjalanan 10 hari ke Makassar, Toraja dan Manado. 

Ada cerita mengenaskan di perjalanan terakhir ini. Tanpa sengaja saya menginjak air kotor di Makassar, alhasil sepatu basah. Saya tidak bisa mencuci sepatu karena khawatir sepatu ini tidak kering dan ini satu-satunya alas kaki yang saya bawa. Untuk selanjutnya dalam perjalanan, saya terganggu dengan bau tidak segar dari sepatu. Walaupun sudah diatasi dengan menuang bedak bubuk, memasukkan tisu basah, tapi bau itu tidak juga hilang, hanya sedikit berkurang. Kaos kaki yang setiap hari saya ganti pun ikut-ikutan berbau tidak sedap.

Kini sepatu kanvas biru sudah banyak temannya. Pabrik sepatu itu mengeluarkan produk sejenis dalam berbagai warna, hitam, abu-abu, cokelat, pink, putih dan lain-lain. Semua dengan ciri yang sama, ada lubang berdiameter satu centimeter di bagian tumit.


Wednesday, December 24, 2014

TANA TORAJA: Pohon Tarra

Perjalanan pada hari ketiga di Tana Toraja semula di fokuskan pada daerah Selatan, tapi cuaca tidak mendukung. Akhirnya banyak dilakukan penyesuaian. Ah, sayang sekali.

Usman yang menemani perjalanan kali ini bercerita tentang tata cara 'penguburan' bayi orang Toraja. Seperti diketahui khalayak ramai, duile, Toraja terkenal dengan kebudayaan yang unik, salah satunya mengenai tata cara penguburan bayi. Bayi yang meninggal sebelum mempunyai gigi akan diletakkan di dalam lubang yang terdapat pada pohon Tarra. Pohon ini dipilih karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu. Dan batang pohon itu dianggap sebagai rahim ibu, sehingga pengembalian mayat bayi ke dalam 'rahim' ibu bisa menyelamatkan bayi-bayi selanjutnya.

Pada hari itu, kami tidak menemukan pesta peletakkan bayi ke dalam pohon Tarra. Kabarnya, bentuk pestanya pun sederhana saja, berbeda dari pesta peletakkan mayat orang dewasa. Sebagai ganti dari acara peletakkan bayi, kami ditunjukkan pohon Tarra yang berada dekat jalan.

Pohon ini tinggi dan berdiameter besar. Di batang pohon, tampak ijuk-ijuk yang digunakan untuk menutup lubang setelah bayi dimasukkan. Semakin tinggi strata sosial bayi, maka semakin tinggi pula letak lubang pada pohon.

Hmm, hidup dan mati tidak lepas dari strata sosial.

Tuesday, December 23, 2014

KUDUS: Museum Kretek



Obrolan renyah dengan Tari tentang lentog, nama makanan, akhirnya berlanjut dengan rencana kunjungan ke Kudus. Sebenarnya, kalau diingat-ingat beberapa tahun ke belakang, saya pernah berencana ke Kudus ketika masih menjadi pegawai dengan jam kerja delapan sampai patgo (jam empat langsung go). Alhamdulillah, tertunaikan.



Kudus. Kudus. Kudus. Mengapa Kudus? Nama itu seperti punya magnet tersendiri. Ketika Tari, teman jalan, menanyakan lokasi dan makanan yang mau dicoba, saya sama sekali blank. Itu karena daya tarik kunjungan hanya berdasarkan nama. Begitulah kekuatan nama.



Dan ketika kunjungan ke Kudus terjadi, salah satu tempat yang menjadi tempat pijak ialah Museum Kretek. dari penginapan, kami diantar abang becak yang sepertinya mengenal Tari cukup baik. Pagar museum mengelilingi halaman yang luas, ditumbuhi rumput dan pohon mangga. yang sedang berbuah lebat, pula.

Bangunan museum terletak di bagian tengah, sedangkan di sisi kanan terdapat rumah adat Kudus yang terbuat dari kayu, dihiasi ukiran. Saya terus terang bingung kaitan antara rumah adat Kudus dengan museum kretek. Pasti somewhere ada penjelasan logis mengenai penempatan rumah adat Kudus di areal Museum Kretek.
Setelah membayar tiket masuk seharga dua ribu rupiah per orang, saya langsung melihat lampu, kayaknya sih kristal yang digantung di tengah-tengah ruangan. Museum ini diresmikan tahun 1986 oleh Soepardjo Roestam yang ketika itu jabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Pembangunan museum ini terinspirasi dari pesatnya perkembangan rokok kretek di Kudus yang menggerakkan perekonomian warga.

Bagian dalam museum dipenuhi patung-patung dan berbagai alat pembuat rokok kretek. Semua itu bertujuan untuk menjelaskan sejarah rokok kretek, sejak diolah secara manual hingga menggunakan teknologi.  Satu ruangan berfungsi sebagai Bioskop Museum Kretek, tapi saya tidak punya kesempatan untuk menonton di situ. 

 
Ada juga foto-foto pengusaha rokok kretek yang pernah jaya di Indonesia, termasuk Nitisemito pemilik pabrik Bal Tiga. Sejarah pengusaha ini dijelaskan rinci. Dokumentasi  tentang perkembangan pabrik rokoknya juga lengkap. 







Hmm, satu pertanyaan yang menggelitik: apakah ketika itu sudah ada kesadaran tentang dampak rokok?

Monday, December 22, 2014

TOMOHON: Pasar Beriman Tomohon

Hampir jam 08:30, Didi yang akan mengantar perjalanan kami tiba. Berpakaian safari dengan sepatu pantofel. Wuih, padahal kami hanya berpakaian casual aja: ada yang dengan celana pendek, rok kibar-kibar, jeans coret-coret, kaos warna plentang-plenting, ransel dan sepatu kets Pertama kali disebut lokasi tujuan, Didi kaget. Ekspresi mukanya bertanya: "Ngapain jauh-jauh ke pasar? Kayak di Jakarta enggak ada pasar aja." Sejenak kemudian, dia angguk-angguk, kepala tentunya, bukan dengkul. "Saya belum pernah ke sana. nanti kita cari," katanya. Yak, perjalanan dimulai. Tujuan pagi ini pasar tradisional.


Benar saja. Didi sempat tiga kali berhenti untuk bertanya arah menuju pasar ini. Dan ketika tiba di tempat parkir pun, Didi berpesan: "Saya temani." Nada suaranya itu yang bikin kami enggak bisa nolak. Patuh, serasa lagi disuruh oleh bapak pembina upacara. Jadilah kami masuk pasar berbaris, mengikuti Didi.

Namanya sungguh unik: Pasar Beriman Tomohon. Entah kenapa dinamakan beriman. Komoditas yang dijual di sini seperti pasar tradisional lainnya. Ada sayur, bumbu masak, bunga potong, buah, daging dan lain-lain. Nah, komoditas daging ini pembedanya. Jika kita umum melihat daging sapi dan segala macam organ tubuh yang dijual di pasar, di Pasar Beriman ini menjual berbagai macam hewan yang lazim dikonsumsi penduduk setempat.

Di dekat tempat parkir, ada penjual bambu hijau yang telah dipotong-potong untuk keperluan masak nasi jaha. Seperti lemang pada orang Minang, nasi jaha ini menggunakan jahe. Rasanya lebih gurih. Agak masuk, akan ditemui ibu-ibu duduk di dingklik menjajakan cumi dan ikan. Meskipun Tomohon berada di dataran tinggi, tapi cumi dan ikan itu tampak segar.


Di los yang menjual daging,  dengan mudah ditemui kandang anjing yang tentunya berisi anjing hidup. Tampang mereka sedih dan memelas. Bagaimana tidak. Mereka bisa melihat teman-teman mereka yang sedang dibakar di tempat yang hanya berjarak satu meter dari kandang. Setelah bulu-bulu habis, anjing mati yang kini berwarna hitam di letakkan di atas kandang anjing.

Ah, buru-buru pindah lokasi. Di bagian ini tampak paniki atau kelelawar yang telah dipisahkan antara badan dan sayap. Sepertinya mereka dijual terpisah. Seperti yang dicelotehkan Umi, teman jalan, sayap kelelawar mirip jamur kuping. Emang, bentuknya mirip. Entah rasanya.
 
Di bagian lain ada tikus yang ditusuk sepotong batang pohon dari bagian bokong. Kelompok hewan ini pun sudah dibakar, sehingga tidak lagi berbulu. Tidak jauh dari situ, ada penjual ular. Wow. Badan ular dengan corak kulitnya yang indah dipotong-potong. Hmm, mengapa tidak dikuliti dulu? Bukankah harga kulit ular tinggi?



Babi dan babi hutan juga mudah ditemui di pasar ini. Beberapa kepala babi teronggok dengan ekspresi lucu. Mereka bukan Miss Piggy, begitu yang seringkali saya ingatkan pada diri sendiri. Di bagian lain juga ada kucing.


Sudah! Saya tidak tahan untuk melanjutkan. Ekstrim memang, tapi begitulah Pasar Tomohon, yang menjadi daya tarik wisatawan lokal dan asing untuk berkunjung.




MANADO: Resto Kampoeng Minahasa

Perjalanan panjang yang dimulai sejak jam 08:30, hampir tiba di titik akhir: tempat makan. Jadwal makan kali ini merangkum makan siang dan malam sekaligus. Kenapa begitu? Ini sama sekali bukan dalam rangka penghematan, tapi karena  Didi, yang mengantar kami, tidak menemukan tempat makan yang sesuai di rute perjalanan yang dilewati. Sejak sarapan, perut hanya diganjal dengan crackers abon, pisang goreng dan air.

Ketika sampai di Kampoeng Minahasa, hari sudah mulai gelap. Kami diantar ke saung yang kosong dan langsung diberikan buku menu yang dijilid hard cover. Aih, jadi inget skripsi. Pelayan memberikan informasi jelas mengenai nama dan ukuran ikan yang akan dipesan. Maklum, nama ikan yang ditulis di buku menu menggunakan nama yang biasa dipakai orang Manado. Cukup banyak pula pilihan sayur. Eh, di sini, paku pun dimasak. Paku sebutan lain untuk pakis.

Selagi menunggu pesanan datang, yang memang lama, kami menyaksikan lompatan kelinci-kelinci gemuk. Mereka banyak tersebar di atas rumput yang memisahkan antara satu saung dan saung lainnya. Hasil pengamatan para amatir, ini kelinci impor. Asik mengikuti pergerakan mereka dengan badan yang ginuk-ginuk. Di beberapa tempat juga tampak kandang besi mereka. Ah, tapi mereka belum bisa menggantikan rasa lapar.
ernafit.blogspot.com

Pesanan datang akhirnya. Apakah rasa sesuai dengan waktu tunggu yang panjang? Tumis paku enak. Tumis kangkung dengan batangnya yang crunchy, tapi rasa standar dan terlalu berminyak. Ikan goropa cukup bumbu hanya kurang pedas. Apa ini akibat harga rica yang sedang tinggi? Udang saus sedikit di bawah harapan, tapi bakwan jagungnya juara! Renyah dan sarat bumbu. Bagaimana dengan harga? Well, masuk batas atas.

Pesan penting untuk calon pengunjung: Datanglah sebelum lapar.