Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Monday, June 20, 2022

Antibiotik: Harus Dihabiskan

Antibiotik sudah menjadi obat yang umum diresepkan dokter untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri pada kondisi tertentu. Sebenarnya, sejak kecil pun saya sudah makan obat jenis ini, tetapi entah mengapa respon tubuh negatif terhadap beberapa merek antibiotik baru terlihat pada usia sekitar 30an.

Saat itu saya mendapat antibiotik amoxicillin dengan dosis 3x/hari. Namun, baru sekali menelan obat itu, saya merasakan badan yang gatal. Anehnya, gatal itu tidak terasa di permukaan kulit, tetapi di bawahnya. "Jadi, gimana garuknya?" Saya langsung hubungi doktter yang meresepkan itu dan segera mendapat ganti antibiotik lainnya. Alhamdulillah aman.

Setelah itu, ada lagi kejadian dengan antibiotik merek lain yang membuat badan juga terasa gatal. Sayangnya, saya lupa nama obat itu. Ketika itu keputusan saya, menghentikan pemakaian tanpa melapor kepada dokter. Walaupun saya tahu, di kemasan obat antibiotik pasti dituliskan harus dihabiskan.

Suatu ketika, saya tugas di Pontianak dan demam yang sampai membuat saya kesulitan jalan. Tak ingin merepotkan teman-teman di kantor cabang, saya berinisiatif mendatangi dokter umum yang praktek tidak jauh dari hotel. Saya masih ingat, dokter tersebut sudah sepuh dan sangat berhati-hati. Menanyakan perjalanan, makanan, kebiasaan dan alergi saya. Oh iya, beliau juga menanyakan jadwal tugas saya sebelum kembali ke Jakarta. Akhirnya dengan suara berat dokter itu bilang, "Saya harus resepkan antibiotik. Ada alergi antibiotik?" Saya ingat amoxicillin tetapi saya lupa nama antibiotik yang satunya lagi. Lalu dokter itu berpesan, "Catat seluruh nama obat yang mencetuskan alergi dan kabari ke keluarga dan teman-teman." Sejak itu saya mencatat nama obat yang membuat saya tidak nyaman sampai tidak tahan.


Minggu lalu, saya mendapat resep obat antibiotik (dosis 3x/hari) dari dokter gigi setelah mencabut geraham bungsu.  Duh, masih terbayang rasanya ketika dokter mencongkel gigi dengan obeng. Mana saya sempat-sempatnya melihat semua alat dan bahan yang masuk ke dalam mulut. Ngeri, ngilu, nyeri, pegal dan lain-lain yang bercampur jadi satu.

Tidak lama setelah makan antibiotik ini pertama kali, terasa perut mual, tetapi tidak sampai muntah. Saya berbaring dengan bersandarkan pada bantal tiga susun. Obat itu masih terus saya makan, mengingat ada pesan manis (dihabiskan). Lalu saya temukan cara untuk mencegah mual: makan yang banyak. Mulailah saya aktif mengunyah, nasi, sayur, ikan, buah, camilan, buah lagi, sayur lagi, roti. 

Memang tidak terasa mual, tetapi perut bagian bawah terasa penuh gas meskipun antibiotik sudah habis. Tidur berbaring lurus membuat perut saya sakit seperti ditarik. Jalan dan mengangkat beban pun membuat perut terasa sakit. Perut bagian bawah kalau ditekan terasa keras dan sakit.  Ini berlangsung selama tiga hari. Saya coba atasi dengan minum ramuan jahe, kunyit, dan pandan. Setiap akan tidur saya oleskan Minyak Kutus Kutus agar bisa tidur sedikit lebih lama. Itu pun saya terbangun malam setelah sekitar tiga jam tidur, lalu meringis sakit/tidak nyaman di perut. Saya sudah berpikir untuk ke dokter, tetapi...

Tadi malam sepertinya saya dapat pencerahan, Alhamdulillah. Sambil berbaring lurus di tempat tidur, saya tekan perlahan-lahan perut bagian bawah. Sakit sih, tetapi terasa ada getaran-getaran halus dalam perut yang terasa naik dan kemudian hilang. Bukan sendawa, ya. Kemudian saya ulangi dengan menekan titik-titik lain di perut bagian bawah dan rasakan sensai yang sama. Alhasil saya bisa tidur nyenyak dan bangun pagi lebih segar. 

Saya tidak tahu apa memang begini cara mengatasi perut yang terasa penuh gas.




Thursday, August 5, 2021

Kebiasaan Baru

Pandemi ini membuat banyak perubahan, termasuk cara menerima barang. Kami musti hati-hati karena banyak alasan.


Ketika kurir datang, kami hanya menyapanya dari jendela dan berpesan agar barang dimasukkan lewat pagar. Ada saja kurir yang enggan melakukannya, sehingga kami pun berseru, "Lempar aja. Lempaaar!" Pokoknya, instruksi penuh semangat.


Siang itu ada kurir yang datang.


Naca berdiri depan jendela dan memberi instruksi seperti biasa. Dia mengulang instruksi, tetapi kurir itu enggan melemparkan barang. Setelah pakai peralatan lengkap, Naca menemui kurir itu di pagar.


Semenit kemudian, Naca sudah masuk rumah, tanpa membawa barang kiriman.


"Mana paketnya?"


Oalah, ternyata kurir itu membawa dua ekor ayam kampung yang masih hidup. Dan, salah alamat pula!


Apa jadinya kalau ayam itu beneran dilempar?
Sop ayam
Lemper ayam
Ayam woku

Wednesday, May 26, 2021

Harusnya Air Kelapa Muda, Eh?

Sepulang jalan pagi, saya mampir sebentar di kios kelapa untuk beli air kelapa. Di kios ini tersedia kelapa parut dan santan. Namun ketika ada yang hendak membeli air kelapa, penjual bisa mengambilkan dari kelapa yang belum dibelah.

Bapak penjual yang biasa melayani sedang tidak tampak. Hanya ada Ibu penjual yang sedang ngobrol asik dengan dua pembeli.

Setelah mendengar pesanan saya, ibu penjual bertanya, "Mau yang muda atau tua?"

"Mana-mana." Saya menyerahkan selembar uang duaribu. 

Satu pembeli yang pakai blus merah langsung menoleh. "Eh, enggak bisa terserah gitu. Tergantung masakannya."

Saya bersiap menjawab, ketika pembeli berbaju batik berujar dengan suara sopran.

"Iya, jangan masa bodoh. Untuk masak ... (ia menyebut kata yang mungkin nama masakan) harus pakai air kelapa tua. Kalo bacem, harus pakai air kelapa muda."

"Ah, yang agak tua juga enggak kenapa-napa," sergah si baju merah.

"Musti yang muda biar berasa manis, sedep!" bantah si batik.

Nah lho, saya jadi malas menjawab.

Dua pembeli tadi masih terus mempertahankan pendapatnya dan seringkali menggunakan bahasa daerah yang saya tidak mengerti. 

"Emang mau masak apa?" tanya penjual sambil memberikan seplastik air kelapa.

"Buat bikin pupuk." 

Ibu penjual itu tertawa besar.




Berikut resep MOL yang saya dapat dari akun youtube Kebun Indra Tarigan.

Bahan-bahan:

1 kg sampah buah dan sayuran yang diblender halus

1 l air kelapa

1 l air beras (bisa diganti dengan 2 sdm tepung beras + 1 l air sumur)

100 gr molase/gula

Cara buat:
Campur semua bahan dan simpan dalam wadah bertutup rapat dan gelap (terhindar dari cahaya)
Simpan selama 2 minggu, setiap hari tutup wadah dibuka 1-2 detik untuk mengeluarkan gas (agar tidak meledak)

Cara pakai:
Campur 30 ml MOL dengan 1 l air.
Siram ke media tanam sekali dalam 2 minggu.





Sunday, January 10, 2021

Ketoprak Yess Mang Ikin

         Entah sejak kapan saya mulai suka ketoprak. Makanan ini terdiri dari potongan ketupak, tahu goreng, bihun dan irisan timun yang dicampur dengan bumbu kacang beraroma bawang putih. Dulu saya biasa makan ketoprak di pelataran TIM bersama Lily, setelah melihat pameran lukisan Basoeki Abdullah. 

        Nah, ketoprak datang lagi di sekitar lima tahun belakangan ini. Mulanya, ada rombongan penjual ketoprak yang menyewa rumah, tidak jauh dari rumah saya. Mereka berjualan ketoprak di pasar, meumpang di depan kios beras setiap pagi sampai siang hari. 

 


       Ada yang berbeda dengan ketoprak mereka. Bumbu kacang yang mereka gunakan menyebar aroma lezat dan komposisi bawang putih juga tidak berlebihan. dalam waktu sebentar saja, pembeli ketoprak mereka bertambah. Ada yang makan di tempat, tetapi lebih banyak yang membeli bungkus. Setiap hari Sabtu dan Minggu, pembeli jauh lebih banyak dari hari-hari lainnya. Kalau datang sekitar jam tujuh pagi, pembeli harus siap-siap saja menunggu sampai satu jam. Begitulah keadaannya. Antre, meskipun sudah ada tiga orang yang bertugas membuat ketoprak.

        Kini mereka sudah menempati kios yang lebih layak di dekat tempat semula. Oh, iya, mereka biasa tutup setiap akhir dan awal tahun.

Saturday, January 9, 2021

Bagai Adonan

        Pagi itu semangat akan bertemu Utami di seputaran Menteng. Rencana, tinggal rencana. Menjelang jam bertemu, ada pekerjaan yang musti tuntas dan mendapat kabar tentang demo di jalan menuju lokasi. Jadilah jadwal bertemu molor dari yang seharusnya.

        Utami sudah menunggu, duduk rapi di dekat manekin. Iyalah, kita janjian bertemu di satu pertokoan peninggalan zaman Soekarno. Eits, tapi itu hanya point singkat. 

       Lanjut ke tempat makan di sekitaran situ, dan mulailah cerita tentang aktivitasnya yang bejibun. Mulai mengurusi segala pembuatan kain tradisional di daerahnya sampai penjualan. Cerita tentang bahan pewarna alami mengingatkanku pada kain ecoprint yang belum juga selesai. Tapi ceritanya menambah semangat untuk meneruskan ecoprint dengan pewarnaan alami. Alami, Na. Proses yang lama, tetapi meninggalkan jejak kebaikan untuk bumi, ckckck.

        Mumpung di sekitaran, saya tidak melewatkan mampir ke tempat es krim enak. Banyak perubahan layout, tapi tetap saja lokasi ini tampak nyaman dan bikin kangen. Cerita pun berlanjut dengan urusan tulis-menulis. Ceritanya seputaran kegiatan fotografi juga memberi inspirasi. 

        Ah, senangnya bertemu dengan teman-teman. Hmm, kapan ya terakhir kali bertemu dengan teman-teman yang hadir secara fisik?

        Eh, tulisan ini kok jadi campur aduk bagai adonan?


Wednesday, October 26, 2016

ROTI ISI TIGA VARIAN

Pada pertemuan di Sekolah Singapura minggu lalu, ada deretan kios makanan, minuman dan suvenir yang diadakan oleh orang tua murid atau kerabatnya. Pagi itu, sebelum jam makan siang, perut saya menuntut minta diisi. Saya susuri kios makanan, mencari yang cocok. Kala itu, pilihan tidak banyak, hanya ada kios snack, Cimory dan lauk makan yang disajikan dengan roti. Yang terakhir itu menjadi pilihan saya.

Mereka menyediakan tiga macam lauk: peda, cumi rica dan teri yang masing-masing tersedia dalam dua ukuran. Setelah mencicipi ketiganya (hmmm, bukan karena maruk, tapi didorong oleh penjualnya), saya memutuskan mengisi roti saya dengan ketiga varian itu. 



Roti diolesi dengan margarin, kemudian diisi dengan tiga lauk tadi dan dilengkapi dengan selada dan tomat segar. Sebelum disajikan, roti dibakar. Untuk empat potong roti isi, saya membayar duapuluh ribu rupiah. 

Rasanya? Well, rasa lauk cumi, peda dan teri itu sendiri sangat enak dan cocok sebagai teman nasi hangat. Tetapi ketika lauk itu digabungkan dengan roti, sensasinya berbeda. Ada ketidakcocokan di sana. Terlebih, penambahan margarin pada roti membuat rasa asin yang cukup kentara. Walau begitu, roti isi itu memnuhi tuntutan perut hari itu.

Monday, October 24, 2016

KAMBING BAKAR CAIRO

Siang dan ajakan makan itu perpaduan yang klop sekali. Seperti siang itu, tiba-tiba dapat ajakan makan kambing bakar Cairo di seputaran Kelapa Gading. Saya nurut dan patuh, hehehe.

Sebenarnya kambing bakar belum menjadi menu yang saya hunting mati-matian, mungkin karena khawatir level kolesterol badan yang cenderung tinggi. Dan saya sudah tidak ingat lagi terakhir kali makan kambing bakar, palingan sate dan sop kambing.

Lokasi resto tidak sulit ditemukan. Berada di antara deretan ruko yang digunakan untuk area makan, toko dan kantor. Tampilan depan yang sederhana, tidak ada ciri yang menonjol. Tapi untuk lain kali, saya tahu yang menjadi penanda lokasi resto ini: toko kue Manon. Iya, hanya berjarak beberapa ruko, ada toko kue Manon. Sudah, sudah, sekarang kita bahas kambing bakar Cairo.

Tempat makan ini menampilkan tagline 'Terlezat ke-2 se Timur Tengah'. Mengapa kedua? Pasti yang pertamanya ada di Cairo. Meja dan kursi kayu di sediakan untuk pengunjung yang saat itu ada dua meja terisi. Selain kambing bakar, resto ini juga menyajikan soto, gulai, tongseng dan lain-lain.

Sesuai dengan saran pelayan, saya memesan paha, entah paha kiri, kanan, depan atau belakang. Ketika pesanan datang, terdengar suara sizzling yang heboh dan aroma yang hangat. Potongan paha itu terlihat naked, tampil apa adanya.Tidak terlihat bumbu yang menempel pada saat proses pembakaran. Paha kambing ini disajikan dengan  dua piring kecil, satu piring berisi kecap, merica dan cabe dan piring kecil lainnya berisi irisan tomat, jeruk limau dan timun. 



Seperti yang tertulis, menu ini dinyatakan rendah kolesterol. Dagingnya empuk dan mudah sekali terlepas dari tulang. Sepertinya daging ini direbus dengan rempah-rempah sebelum akhirnya dibakar, sehingga tidak tercium bau kambing yang suka mematikan selera makan. Dan kambing bakar ini cocok sekali dicocol ke dalam kecap yang dicampur merica dan cabe.

Masih takut makan kambing bakar?

Tuesday, June 7, 2016

TOPIK YANG (MASIH) BELUM USANG

Saya belum tergerak untuk ikutan berpendapat tentang doa buka puasa yang salah dan yang sesuai tuntunan rasul, atau tentang desakan menutup seluruh tempat makan pada jam orang muslim berpuasa. Biarlah itu jadi porsinya orang-orang lain, setidaknya untuk saat ini. 

Satu yang saya yakini, puasa saya untuk mengharap ridho Allah, bukan mengharap hormat dari sesama umat.

Monday, June 6, 2016

MARHABAN YA RAMADHAN


Ramadhan kali ini mengingatkan saya saat bocah-bocah masih sering berkumpul di sini, sahur, berbuka puasa dan taraweh di sini.


Tyas, Ari, Sashi & Naca
Suatu kali dalam keadaan mendesak, Naca yang kala itu baru berumur 7 tahun, kelas 1 SDI Al-Azhar, harus menjadi imam untuk saudara-saudaranya yang dua tahun lebih muda. Ada 3 makmum, Sashi, Tyas, dan Ari, satu-satunya laki-laki.

Saya  menyaksikan mereka dari belakang.

Rakaat pertama sholat Isya, setelah Al Fatihah, Naca mengalunkan "Alif lam mim..."

Hati saya berdebar, "Wah, anak sekecil ini akan membaca surat Al Baqarah." Rasa malu menyergap. Umur saya yang berkali-kali lipat dari umurnya, belum hapal surat itu. Saya menunggu kelanjutannya. Naca sepertinya memerlukan waktu untuk membaca ayat kedua.

Saya langsung tersentak kaget, ketika mendengar ia mengucapkan, "Allahu Akbar," lalu dilanjut posisi ruku'. Yah, ternyata Naca hanya membaca satu ayat saja dari surat Al Baqarah.

Tuesday, March 29, 2016

DONGENG KEJUJURAN & PEKERTI

Pekerti, apa sih itu? Berdasarkan kamus, pekerti diartikan sebagai perangai, tabiat. Tentunya dalam hal pendidikan yang diharapkan tumbuh adalah perangai yang baik.









Banyak cara-cara menyenangkan yang dapat digunakan untuk menumbuhkan perangai baik pada anak-anak, seperti cerita. Lalu, mulailah dari hal-hal yang dekat dengan mereka, seperti hobi.

Buku Dongeng Kejujuran & Pekerti ini berisi empat dongeng. Setiap dongeng menceritakan kejadian yang biasa anak-anak alami, seperti bermain bersama teman dan pergi ke warung. Kejadian-kejadian dalam cerita ini meninggalkan kesan pada anak-anak mengenai yang harus mereka lakukan.


Penerbit Tiga Ananda (imprint Tiga Serangkai)
Editor: D. Kurniawan
Desain sampul & isi: Rendra T. Hartanto
Penata letak: Diyantomo
Terbit: 2016

Thursday, February 4, 2016

TEMAN PERLU PIKNIK

Saya pernah di-bully! Itu terjadi pada saat acara yang mereka sebut reuni dengan teman-teman yang pernah belajar bersama-sama selama empat tahun. Rasanya sungguh tidak enak, sakit dan sedih, terlebih karena itu dilakukan oleh teman.

Apa saya marah? Sama sekali tidak. Saya terdiam dengan muka kaku, hanya untuk menahan supaya air mata tidak menitik. Dan pertahanan jebol akhirnya, di mobil menuju rumah. Apa sudah selesai? Belum! Setelahnya pun, saya masih mendapat wejangan dari pembully agar tidak mudah marah. WUIH! Kenapa tidak berpikir terbalik? Pikirkan, apa yang telah dibuat sehingga orang lain terdiam dan sedih.

Entah apa yang menyebabkan bully masih dikaitkan dengan cara untuk menghidupkan suasana. Apa mereka kurang piknik dan kurang kreasi sehingga tidak punya cara lain yang tidak menyakiti orang lain? Apa suasana hidup dengan membully? Suasana hidup untuk siapa?

Kejadian ini akhirnya saya tuliskan di sini untuk mengingatkan diri sendiri. Tidak ada nilai positif pada bullying, terlebih pada obyek bully.

Gambar dan tulisan: benar-benar tapi tidak berhubungan :D



Tuesday, February 2, 2016

CARROT CAKE

Pasti gara-gara kelamaan tinggal di Singapura (aish, gayya!) jadi demen banget sama yang namanya carrot cake. Ini carrot cake yang sungguh-sungguh cake, bukan sejenis mie yang banyak dijual di Singapura.
Setiap makan di tempat yang menyediakan carrot cake, pasti pilihan saya pada makanan satu ini. Terakhir makan ini di Cheesecake Factory. Carrot cake dikombinasikan dengan lapisan cheesecream yang aduhai.
Siang tadi, setelah bantu-bantu cuci piring, saya lihat bahan-bahan untuk bikin carrot cake tersedia lengkap. Mulailah eksperimen. Alat masak sudah ditentukan dari awal: rice cooker. Kenapa tidak pakai oven? Karena saya tidak punya.


Dan jadilah carrot cake berdasarkan resep di bawah ini.

Bahan A:
3/4 cangkir terigu
1 sdt kayu manis bubuk
1/4 sdt garam
1/3 sdt baking powder
Semua bahan A dicampur rata.

Bahan B:
1/3 cangkir gula (bisa ditambahkan)
1/4 cangkir minyak sayur
2 sdt air jeruk nipis/lemon
1/4 cangkir susu cair
Semua bahan B di campur rata.

Bahan lain:
3/4 cangkir wortel parut
1/2 cangkir kacang cincang kasar
1 telur kocok tangan.

Masukkan telur kocok sedikit-sedikit ke dalam Bahan B. Aduk perlahan.
Masukkan ke dalam Bahan A dan aduk sebentar.
Tambahkan wortel dan kacang cincang.
Masukkan adonan ke wadah rice cooker yang telah diolesi minyak sayur.
Hidupkan rice cooker. Perlu hingga 2-3 kali menekan tombol 'cook'.
Carrot cake siap dihidangkan.
Cukup untuk  3-4 orang.


Sunday, January 31, 2016

TAPLAK MEJA BUNDAR: MOTIF NANAS

Sebenarnya sudah lama Mama minta dibuatkan taplak bundar, tapi belum juga menemukan pola yang sesuai. Maksudnya sesuai di sini, ukuran lebih dari 120cm diameter dan pola tidak terlalu rumit, supaya bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Alhasil pola yang didapatkan motif pineapple yang sudah ngehits sekali tingkat kesulitan plus kerumitannya. Jadilah pola itu yang digunakan. Proses merajut diselingin dengan berbagai tugas lainnya, termasuk tugas di luar kota. 

Menjelang tiga lingkaran terakhir, benang habis. Sebelumnya benang dibeli dari toko online yang ada di Surabaya. Untuk pemesanan lagi, mungkin perlu waktu sekitar tiga hari dan tidak ada jaminan warna benang akan sama. Hal ini terjadi karena proses pewarnaan benang akan menghasilkan warna yang sedikit berbeda dari hasil proses sebelumnya. 
Ternyata Mama punya solusi yang lebih enteng. "Udah selesai sampai batas itu aja. Enggak kelihatan ini bedanya." Baiklah, taplak dinyatakan selesai walau kurang tiga lingkaran dari pola.

Wednesday, October 28, 2015

BUNGA PEPAYA

Kemarin mulai lagi tur maksi bersama Dewi, satu kebiasaan yang sempat terhenti sekian lama, tanpa sadar penyebabnya. Berawal dari ajakan minggu lalu dan Dewi yang memilih lokasi. Mula-mula disebut Bunga Pepaya, saya langsung tahu itu restoran Manado di sekitaran Menteng. Yang jadi keraguan adalah kehalalan masakan yang dihidangkan. Buka google dan cek rumah makan satu itu. Informasi yang dibutuhkan tersedia jelas, termasuk jenis masakan yang dihidangkan. Jadilah hari penentuan.
Restoran ini mudah ditemui, Jalan RP. Soeroso nomor 16, sebelah kiri jalan. Tulisan besar berwarna merah akan terlihat dengan jelas. Begitu masuk, kami disambut petugas dengan ramah. Petugas ini tidak mengenakan seragam seperti pelayan lainnya. Ia menawarkan ikan bakar, tapi ukurannya besar yang tidak mungkin dihabiskan oleh dua orang imut ini.
Di depan pintu langsung terlihat lemari kaca yang berisi makanan. Ada berbagai kue khas Manado, seperti balapis, panada dan klappertaart. Lemari kaca berikutnya berisi macam-macam masakan yang di letakkan dalam wadah alumunium. Nantinya, masakan tersebut disendok ke dalam piring untuk disajikan di meja pemesan. Nah di lemari kedua ini ada cakalang fufu, cakalang pampis, ayam sereh, ayam tinorangsak. Baca menu ayam tinorangsak jadi teringat miss piggy. Jaman SMP dulu di Manado, pengalaman pertama tahu tinorangsak. Masakan itu haram karena babi. Ingatan itu masih ada sampai sekarang. Di lemari yang terakhir, tampak berbagai sayur, ada bunga pepaya dan kangkung.
Diskusi cukup lama dengan Dewi, apalagi dia sempat beberapa kali ganti menu. Akhirnya dipilih Kuah Asam Kerapu dan Tumis Bunga Pepaya. Pelengkapnya es brenebon untuk saya dan klappertaart untuk Dewi.
Es brenebon dan klappertart yang mula-mula datang. Es brenebon ini dengan permintaan khusus, tanpa campuran alpokat dan duren, seperti yang tersebut di menu. Di sajikan dalam gelas kaca, kacang merahnya tertutup serutan es yang ditambahi susu cokelat. Ketika akhirnya saya berhasil mengeruk hingga ke bawah, ternyata jumlah kacang merahnya tidak seperti yang dibayangkan. Kurang generous lah, walau cukup membuat segar di siang hari yang amat sangat terik itu. Saya tidak sempat menanyakan komentar Dewi atas klappertaartnya, tapi yang terlihat adonannya tidak selembut klappertaart yang biasa saya makan. Hingga es brenebon dan klappertaart tandas, makanan inti belum juga datang. Mari tunggu sambil tengok kanan kiri.
Dinding ruangan dipenuhi keramik warna biru dan putih, tampak sekali upaya untuk membuat ruangan menjadi elegan. Sofa empuk yang menyandar ke dinding juga dibalut kain berwarna biru, mendampingi kursi-kursi kayu yang berwarna keemasan. Meja marmer abu-abu terang dengan kaki besi yang tampak kokoh. Ketika saya datang, hampir seluruh meja restoran terisi. Para tamu makan sambil ngobrol sehingga cukup bising, terlebih karena jarak antar meja sangat dekat. Percakapan di meja sebelah bisa terdengar jelas. Tempat ini sebenarnya cukup nyaman. Hal ini terasa ketika sebagian besar pengunjung sudah meninggalkan tempat.
Dapur model terbuka. Pengunjung yang berdiri bisa dengan jelas mengamati kegiatan di dapur. Kalau dari tempat duduk, saya hanya melihat petugas dapur sedang berbagi informasi.

Makanan utama akhirnya datang. Aroma segar menyebar dari Kuah Asam Kerapu yang disajikan dalam mangkuk putih besar. Tumis bunga pepaya datang kemudian diikuti nasi putih dalam mangkuk kecil. Kuah asam kerapu ini benar-benar patut untuk ditunggu atau enggak rugi nunggu lama deh. Irisan daun bawang, tomat, cabe rawit, sereh dan kemangi tampak jelas menyertai potongan ikan. Kombinasi sereh dan daun kemangi menambah kesan segar pada masakan. Bumbu yang banyak itu tidak saling mendominasi, semua terasa pas. Bunga pepaya yang ditumis dengan daun jeruk dan daun bawang juga menambah selera makan. Rasa pahit bunga pepaya tidak terlalu kentara. Apalagi? Nasi putih? Ternyata nasi putih yang disajikan dalam mangkuk kecil itu tidak bisa kami habiskan. Kuah asam dan tumis bunga pepaya lebih banyak dimakan tanpa nasi dan itu yang membuat perut kenyang.
Cukup lama kami makan sambil ngobrol di situ, jam makan siang molor hingga jam 15:30. Ketika keluar restoran, kami langsung disambut macetnya Jakarta di saat jam pulang kantor.

Thursday, September 17, 2015

Tempat Baru itu Bernama Kedai Tiga Nyonya

Tetiba ada ajakan makan siang hari ini di TIS, Tebet Indraya Square, tempat yang selalu penuh di saat jam makan siang. Walau begitu, ajakan satu ini tidak dilewatkan demi bertemu teman lama dan bagi-bagi cerita.

Saat masih di perjalanan, saya terima pesannya yang menyatakan ia sudah tiba di lokasi dan bingung memilih restoran. Ia tidak mungkin menunggu saya tiba karena bisa dipastikan restoran akan penuh. Menit selanjutnya satu pesan masuk: Kedai Tiga Nyonya.

Mengambil tempat di deretan belakang dan di sudut, restoran ini memiliki dua lantai, yang semuanya merupakan non-smoking area. Berdiri di luar, saya melihat pintu kaca dua daun yang diganjal pagar pendek. Pastinya bukan ini pintu yang digunakan untuk tamu keluar masuk. Apa iya tuh tamu lompat pagar dulu? Ternyata di sampingnya, ada pintu kaca dua daun lainnya. di salah satu daun pintu tergantung tulisan BUKA. Nah ini pasti pintu masuknya.

Seorang pelayan langsung menyambut ketika saya masuk. Teman yang duduk tidak jauh dari pintu masuk langsung terlihat jelas. Meja makan bertaplak katun putih, dilapisi kertas putih. Di atas meja sudah tersedia kertas sendok dan garpu. Dinding restoran yang berwarna dengan motif lengkung-lengkung berupaya menambah kesan hangat ruangan. Lantai dengan model ubin tempo dulu (eh, apa ini benar-benar ubin kuno?) juga berupaya menambah semarak ruangan. Di dekat meja kasir ada lemari kaca tempat menyimpan berbagai macam kalung manik-manik. (Well, saya sulit bedakan antara manik-manik dan kristal, hiks). salah satu dinding yang menghadap pintu, ada sebuah cermin besar. Pasti tujuannya untuk menambah kesan luas ruangan.

Jarak satu meja dan meja lainnya sangat dekat, sehingga pembicaraan meja sebelah sangat mungkin mengganggu. Eh, lagian ini kan mau makan, bukannya mengobrol, ya? Sandaran kursi yang saya duduki hanya berjarak sepuluh senti dari sandaran kursi tamu di meja lain. Sungguh-sungguh sangat dekat. Saya langsung membayangkan untuk datang kembali ke tempat ini, bukan pada jam sibuk. Pastinya saya bisa menikmati suasana yang coba diciptakan.

Laksa Spesial
Saat jam makan siang itu, terdengar pelayan menyebutkan tidak ada meja kosong kepada beberapa tamu yang datang. Pelayan menawarkan mereka untuk menunggu atau ke sister restaurant di lokasi yang sama.

Lalu bagaimana dengan makanan? Pilihan makanan banyak, dilengkapi dengan penjelasan dan foto. Kami memesan laksa dan nasi bali. Laksa datang terlebih dahulu. Nasi bali, mungkin karena butuh waktu yang lebih lama untuk persiapan dan penyajiannya, baru datang setelah laksa tinggal setengah mangkok.

Dalam mangkok laksa terdapat tauge, kemangi, telur ayam, udang, potongan tahu dan bihun. Kuah yang kental dan gurih. Padahal di buku menu jelas-jelas tertulis semua makanan non MSG, jadi pastinya rasa gurih ini berasal dari racikan bumbu-bumbu dan kaldu. Uap panas yang menyebar beraroma sedap, mengajak orang segera mencicipinya. Sayang, laksa ini terlalu oily.

Nasi Bali
Nasi bali datang dalam ukuran besar, menurut porsi kami. Nasinya terbungkus dalam daun pisang, bersama sambal, kangkung dan kacang panjang. Di samping bungkusan nasi, tampak dua tusuk sate, satu sate lilit, satunya lagi sate potongan.

Pilihan minuman juga banyak, dan (sayangnya) banyak juga yang pakai pewarna, seperti kolang-kaling merah. Aih! Minuman yang kami pilih teh manis, es campur, es cincau hijau yang segar dan es sirsak kelapa muda. Banyak memang, karena masing-masing minum dua gelas. Sirsak yang asam bercampur dengan sirup manis menimbulkan sensasi tersendiri, bisa menghapus sisa-sisa minyak dari laksa yang lengket di rongga mulut.
Es Sirsak Kelapa Muda
Es Cincau Hijau


Di pintu, setelah menyelesaikan proyek makan siang, saya dan teman berbagi pendapat. Sungguh, kami ingin mengulangi makan di Kedai Tiga Nyonya di saat tidak padat pengunjung dan mencoba menu lainnya. Hmm, tapi kira-kira kapan Kedai Tiga Nyonya itu sepi?








Friday, April 10, 2015

CAMILAN SEGALA CUACA

Camilan ini sebenarnya mudah dijumpai di Jakarta. Semudah menemukan tukang gorengan, bahkan jumlahnya jadi lebih banyak karena sekarang ini banyak tukang gorengan yang meng-devoted themselves pada combro dan misro. 
Kegilaan akan combro dimulai sejak SMA. Ketika itu camilan ini seakan menjadi hal yang wajib di acara kumpul-kumpul dan acara iseng lainnya. Tinggal dekatin tukang gorengan dan mulailah bergerilya combro, plus cabe rawit. 
Terus berlanjut. Combro jadi camilan yang susah buat ditolak. Sayangnya, susah sekali menemukan combro yang memenuhi standar rasa pribadi: lapisan singkong tipis, crunchy, isi padat bumbu. Combro yang seukuran kepalan tangan (orang, bukan monster), biasanya singkongnya tebal dan keras. Isinya hanya tampak basa-basi. Combro yang mungil-mungil itu punya lapisan singkong yang tipis, tapi rasa isinya perlu pembenahan di sana-sini. But! Dengan kwalitas seperti itu, saya bisa habiskan banyak combro.
Kegalauan combro tidak berakhir di situ. Ambil resep dan uprek beberapa kali. Hasilnya memuaskan dah. :D

Bahan:

Singkong 1 kg, kupas
Kelapa yang agak muda 1/4, kupas kulit ari
Oncom 2 kotak, hancurkan
Kemangi 2 ikat, petik daunnya saja

Bawang merah 8, haluskan
Bawang putih 4, haluskan

Daun bawang hijau 4, iris tipis
Bawang bombay 1/2, iris tipis
Rawit 15, haluskan
Garam
Gula

Cara Membuat:
Masukkan singkong, kelapa dan garam ke dalam food processor dan giling hingga halus. Campur dengan 1/4 daun bawang.
Campurkan oncom, sisa daun bawang, bawang bombay, bawang merah, bawang putih dan rawit.

Tumis campuran oncom, bumbui dengan garam dan gula. Kemudian masukkan daun kemangi. Angkat.
Ambil sesendok singkong, ratakan dan isi dengan campuran oncom. Kemudian bentuk bulatan.
Goreng dengan api sedang.


Hasil: +/- 35 combro

Monday, January 5, 2015

Teman dan Teman



Media sosial menghubungkan kembali silaturahim dengan teman-teman lama. Teman-teman saat sekolah dulu, teman jalan dan teman main. Pertemuan demi pertemuan terjadi.

Satu teman secara berapi-api menceritakan bisnis yang digeluti dan berupaya mengajak teman-teman lain masuk ke dalam lingkaran bisnisnya. Satu teman secara teliti mengomentari hal-hal yang perlu diperbaiki dari teman-teman lain dengan caranya yang sering membuat hati, mata dan telinga kecut. Satu teman dengan gayanya yang khas berbagi pengalaman hidupnya yang terbayangkan seperti maenan putaran untuk hamster-putar terus, enggak pakai jeda. Satu teman berbagi kisah sukses keluarganya. Satu teman secara aktif mendorong teman-teman lain bercerita tentang keberhasilan mereka. Multiragam.

Tidak sedikit pula teman yang mengusulkan pendirian usaha bersama, seperti koperasi, bahkan sudah mulai menentukan fungsi masing-masing. Tanggapan saya saat itu jelas, walau membuat beberapa teman mengerutkan jidat. Iya, saya katakan akan ambil bagian di fungsi/bidang rohani. Pertanyaan-pertanyaan gencar tersembur: "Apa tugasnya rohani itu?" "Sejak kapan ada fungsi seperti itu?" Tugasnya jelas. Mengaamiinkan dengan tulus segala rencana baik.

Di antara hiruk pikuk itu, ada juga pertemuan yang mengingatkan tentang kekonyolan masa lalu dan yang memberi kesempatan untuk menjelaskan kejadian kala itu, seperti tukaran nama (Erna dan Eka) kala dipanggil guru olah raga. Menyemburkan minuman di mulut ke teman yang super-duper menjengkelkan. Ups!


Selanjutnya ada pertemuan dengan teman-teman baru
yang terjalin berkat  media sosial ini. Pertemuan yang terjadi pun cukup intens karena terkait suatu proyek (baca: usaha).

Pertemanan yang akrab dengan satu kelompok bisa sedikit melonggarkan hubungan dengan teman lainnya. Maafkan. :( Ini terjadi semata-mata karena kurang pandai menjaga keseimbangan.

Lalu, apa artinya?
Teman yang datang dan menetap.
Teman yang datang dan pergi.
Namun keduanya meninggalkan warna indah pada perjalanan hidup. They are as precious as gold.

Bagian berat dari suatu pertemuan adalah ketika kita mengucapkan salam perpisahan, tanpa bisa mengucapkan salam pertemuan kembali.

Monday, December 29, 2014

JAKARTA: Menjelang Akhir Tahun

Akhir tahun kali ini ditutup dengan acara kumpul-kumpul bersama teman-teman lama. Ini pastinya menjadi acara kumpul hangat karena selagi kumpul kita menghadapi makanan yang disajikan hangat.

Saat bertemu dengan Yuli, Nelmi dan mba Yud pun, menu hangat tersaji cantik. Ada ifumi, mie kuah, bihun goreng. Tempatnya pun cukup 'hangat' karena tidak berada dalam ruang tertutup, plus paparan AC tinggi. Ditambah gelak tawa ala Nelmi yang bikin orang lain menoleh dengan 'hangat' deh. Huaaaa.


Acara hangat selanjutnya dengan Hilda dan Oky  @PepperLunchID. Bersama mereka, hidangan tidak tampil cantik, tapi menggugah selera makan sampai titik terdalam. Bagaimana tidak? Menu pilihan kami disajikan di atas hotplate dan masih terdengar suara mendesis. Ada cipratan-cipratan halus dari hotplates tetapi kami cukup terlindungi berkat kertas yang mengelilingi hotplates. Obrolan ini hangat, bahasan dari masa lalu, tidak termasuk masa pemerintahan Orde Baru, hingga taktik menghadapi tekanan. Intinya sih satu: Penerimaan diri. Nah bagian ini tidak lagi menjadi hangat karena diperlukan pemikiran dalam yang senyap.

Ada lagi beberapa acara lainnya yang pastinya juga hangat, tapi harus dilewatkan untuk berbagai alasan.

Well, akhirnya kita tutup tahun ini. Semoga banyak perbaikan yang bisa dilakukan di tahun-tahun selanjutnya.

Wednesday, November 12, 2014

ARTOTEL: Hotel di Tengah Kota


Satu lagi tempat menginap yang bisa dijadikan pilihan untuk pendatang di Jakarta dan berkegiatan di pusat kota. Hotel ini menghadap ke pusat perbelanjaan Sarinah dan memiliki akses untuk mendapatkan alat transportasi umum.

Gambar pada dinding luar bangunan ini sedikit membingungkan jika dilihat pada saat terang, tapi tunggulah hingga malam. Ada kesan khusus dan misterius yang timbul dari gambar ini.






Petugas hotel ramah dan kualitas makanan yang disajikan sesuai dengan harga yang ditawarkan. Kamar bersih dan tertata apik. Sempat 'menipu' mata saya, bentuk kursi yang disediakan dalam kamar unik.

Colette & Lola: Interior Unik



Pertama kali masuk ke toko ini, Colette & Lola di jalan Senopati, Jakarta, saya lebih tertarik pada hiasan yang memenuhi ruangan. Pegangan pintu kaca yang berbentuk kue, papan tulis dengan berbagai bentuk huruf, peralatan masak dengan warna-warna menarik, kotak-kotak unik di lemari kaca. Ah, semua itu hampir mengalihkan perhatian saya dari cakes.





Pilihan cake banyak dan lumayan sering berganti: hazelnut, kopi, cokelat pahit. Bentuk cake-nya pun unik-unik, ada yang berbentuk lego, minion dan panda. Colette & Lola juga menyediakan maccaroon dan cupcakes. Pelayannya cukup informatif, menjelaskan rasa dan bahan-bahan tambahan pada cake. 

 











Kursi dan meja disediakan untuk tamu, tapi dalam jumlah terbatas. Sebaiknya, rencanakan beli cake untuk dibawa, bukan makan di tempat. Cake yang dibawa akan ditempatkan dalam kotak cantik, dilengkapi dengan bahan pendingin sehingga cake tidak mudah lumer.