Tetiba ingat Tante Margo yang dulu tinggal di sebelah rumah. Kala itu, hampir setiap hari saya main di rumahnya, bahkan sampai tidur siang pun di rumahnya. Menjelang tidur, Tante Margo akan bercerita menggunakan gambar kartun tanpa kata-kata yang ada di majalah Intisari. Hebatnya, gambar yang sama bisa jadi cerita yang berbeda di lain hari. Mungkin ini salah satu yang memupuk saya gemar bercerita :)
Cerpen berikut berjudul Adiiku, Milan yang gemar pergi ke rumah tetangga sebelah. Siapa nama tetangga itu? ;) Baca cerita lengkapnya di
Majalah Bobo
No. 14 tahun XLIII
09 Juli 2015
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Tuesday, September 22, 2015
Saturday, September 19, 2015
BUAT APA AKU DI SINI?
Sering kali ketika sedang sendiri, saya menemukan hal-hal unik. Seperti waktu itu, sepulang jalan pagi, saya melihat perempuan yang tampak heboh dengan ponsel di tangannya. sesekali ia berteriak dan tidak jarang pula ia berkata lemah-lembut. "Nih orang kenapa sih?" Mau samperin tuh orang takut dikira nosy karena orang-orang lain di sekitarnya hanya senyum-senyum saja lihat kelakuan perempuan itu.
Daripada kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan jejak yang mendalam, marilah ditulis Majalah Bobo. Dan cerita itu dengan judul Buat Apa Aku di Sini? dimuat, berbarengan dengan cerita lainnya yang berjudul Tragedi Es Pisang Ijo. Baca ceritanya di
dan kriim ke
Majalah Bobo
No. 12 tahun XLIII
25 Juni 2015
Daripada kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan jejak yang mendalam, marilah ditulis Majalah Bobo. Dan cerita itu dengan judul Buat Apa Aku di Sini? dimuat, berbarengan dengan cerita lainnya yang berjudul Tragedi Es Pisang Ijo. Baca ceritanya didan kriim ke
Majalah Bobo
No. 12 tahun XLIII
25 Juni 2015
Friday, September 18, 2015
TRAGEDI ES PISANG IJO
Suatu kali, sebelum berangkat ke Makassar, saya teringat pengalaman makan es pisang ijo di Makassar. Masih teringat jelas rasanya. Enak banget, sangat berbeda dari es pisang ijo yang pernah saya temui di Jakarta. Jadi, kunjungan kali ini, saya membayangkan makan es pisang ijo di kota asalnya. Tidak terlalu berharap makan es pisang ijo di tempat yang dulu karena saya lupa nama tempat dan lokasinya. Biasalah, itu...
Hari pertama di kota itu berlalu begitu saja, tanpa sedikitpun ada kesempatan untuk makan es pisang ijo. Hari kedua ternyata juga sama saja. Hingga hari terakhir di kota itu, saya tidak punya kesempatan untuk mencicipi makanan yang sempat ngehits di Jakarta.

Pengalaman dengan makanan itu yang menjadi inspirasi cerita berikut ini. Ada kisah 'jleb' di seputar es pisang ijo.
Pasti sudah baca ceritanya di
Majalah Bobo
No. 12 tahun XLIII
25 Juni 2015
Hari pertama di kota itu berlalu begitu saja, tanpa sedikitpun ada kesempatan untuk makan es pisang ijo. Hari kedua ternyata juga sama saja. Hingga hari terakhir di kota itu, saya tidak punya kesempatan untuk mencicipi makanan yang sempat ngehits di Jakarta.

Pengalaman dengan makanan itu yang menjadi inspirasi cerita berikut ini. Ada kisah 'jleb' di seputar es pisang ijo.
Pasti sudah baca ceritanya di
Majalah Bobo
No. 12 tahun XLIII
25 Juni 2015
Wednesday, September 16, 2015
UJIAN CALON TABIB
Raja Zhorifiandi dari Negeri Kalomolomo tertegun mendengar laporan Paman Patih. "Memangnya, Tabib Eko tidak sanggup lagi mengobati penduduk?" tanya Raja menyebut satu-satunya tabib di Negeri Kalomolomo.
Paman Patih menggeleng. "Musim pancaroba sebentar lagi datang. Biasanya ada wabahpenyakit," jelas Paman Patih. "Seperti tahun lalu, hampir setengah penduduk menderita demam dan gatal-gatal. Tabib Eko jadi kerepotan."
Nah, jika Tabib Eko tidak sanggup lagi mengatasi masalah kesehatan di Negeri Kalomolomo, Raja Zhorifiandi harus segera bertindak. Sang Raja perlu menambah jumlah tabib di negeri itu, tapi apa itu urusan mudah?
Baca kisah selengkapnya di
Majalah Bobo
No. 01 tahun XLIII
09 April 2015
Paman Patih menggeleng. "Musim pancaroba sebentar lagi datang. Biasanya ada wabahpenyakit," jelas Paman Patih. "Seperti tahun lalu, hampir setengah penduduk menderita demam dan gatal-gatal. Tabib Eko jadi kerepotan."Nah, jika Tabib Eko tidak sanggup lagi mengatasi masalah kesehatan di Negeri Kalomolomo, Raja Zhorifiandi harus segera bertindak. Sang Raja perlu menambah jumlah tabib di negeri itu, tapi apa itu urusan mudah?
Baca kisah selengkapnya di
Majalah Bobo
No. 01 tahun XLIII
09 April 2015
Monday, April 20, 2015
KETUKAN MONSTER
Suatu kali, saya menghadapi klien dari perusahaan migas terkenal. Ia duduk dengan nyaman, tapi irama ketukan jari di pinggir meja malah memperjelas suasana hatinya. Ujung bibirnya beberapa kali dipaksa ditarik ke kiri dan kanan menampilkan senyum yang tidak bisa dibilang manis. Nah, ketukan itu terdengar lagi. Kali ini dengan tempo yang lebih cepat dan suara yang lebih keras, namun belum sampai taraf mengganggu sesi pertemuan.
Pandangan mata saya teralih ke jari-jarinya. Walau tidak sampai melongo, saya mengherankan ukuran jari untuk orang yang memiliki badan sepertinya. Tinggi sekitar kulkas tiga pintu dengan berat sekitar 70 kilo. Jadi sangat tidak lumrah jarinya sebesar-besar itu.
Setengah jam berlalu dan klien itu ikut berlalu. Segera buat catatan kecil tentang ketukan monster. Tentu saja ide cerita ini dapat penambahan sana-sini sehingga menjadi sebagai berikut.
Aku mengangkat kepala dan
mengangguk. Aku berdiri di samping Bunda yang tidur beralaskan kayu keras,
tanpa kasur. Muka Bunda tampak pucat, menahan rasa sakit.
Pandangan mata saya teralih ke jari-jarinya. Walau tidak sampai melongo, saya mengherankan ukuran jari untuk orang yang memiliki badan sepertinya. Tinggi sekitar kulkas tiga pintu dengan berat sekitar 70 kilo. Jadi sangat tidak lumrah jarinya sebesar-besar itu.
Setengah jam berlalu dan klien itu ikut berlalu. Segera buat catatan kecil tentang ketukan monster. Tentu saja ide cerita ini dapat penambahan sana-sini sehingga menjadi sebagai berikut.
“Aku ingin nginap sini dengan Bunda,”
rengekku sambil menempelkan kepala ke lengan Bunda yang terbaring.
“Besok kamu sekolah.” Bunda
mengusap-usap rambutku. “Sekarang pulang, temani Ayah.”
Aku mengangkat kepala dan
mengangguk. Aku berdiri di samping Bunda yang tidur beralaskan kayu keras,
tanpa kasur. Muka Bunda tampak pucat, menahan rasa sakit.
“Doakan Bunda cepat sembuh, ya.”
Bunda mengambil tangan kananku dan menciumnya berulang kali. Ada titik air mata
di sudut mata Bunda.
Aku membungkuk dan mencium pipi
Bunda. Kemudian, pergi ke luar rumah Bude dan menyusul Ayah yang sudah lebih
dulu keluar.
Tadi pagi, Bunda pergi ke rumah Bude
yang berada di desa lain yang agak terpencil. Ketika akan mengambil air, Bunda jatuh.
Pinggang dan punggungnya sakit. Menurut dokter di sana, Bunda harus berbaring
di bidang lurus dan keras.
Sebenarnya Bunda ingin pulang, tapi
tidak ada kendaraan yang bisa membawa Bunda. Di desa itu tidak ada ambulans
atau mobil lain yang bisa ditumpangi Bunda pulang. Mobil Ayah terlalu kecil
untuk membawa Bunda dalam posisi berbaring. Mobil Pakde besar, tapi sedang
dipakai Pakde ke luar kota. Mungkin besok Pakde kembali.
Baca cerita selengkapnya di
Majalah Bobo,
No. 51 tahun XLII,
26 Maret 2015.
Thursday, April 9, 2015
ANGSA BIRU BENHUR
Begini ceritanya...
Beida berdiri di dekat kandang angsa berbulu biru benhur miliknya. Dulu, ia membeli sepasang angsa biru benhur dari seorang kakek di pinggir hutan.
Beida merasa beruntung karena bisa membelinya dengan harga murah. Angsa berwarna biru benhur biasanya mahal sekali. Kini, sepasang angsa miliknya telah menetaskan telur hingga dua puluh.
Beida memasuki kandang angsa sambil menyanyi lagu riang. Setiap hari, ia harus menyanyikan lagu riang
karena angsa-angsanya gemar mendengar lagu riang. Lagu-lagu
riang itu yang membuat angsa-angsanya jadi rajin bertelur.
Judul: Angsa Biru Benhur
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 48 XLII 5 Maret 2015
Tuesday, February 3, 2015
ONDEL-ONDEL
Menyenangkan berada di rumah setelah hampir seminggu di Lembang. Banyak kejadian yang bisa ditulis. Dari mulai wedang ronde di hari pertama dan malam terakhir, pembicara-pembicara yang penuh ide ajaib, penulis-penulis berkilau hingga udara yang bikin teman-teman berbunyi setiap saat. Hehehe. Tapi yang pertama ditulis ini aja dulu: Ondel-ondel.
Ondel-ondel suka menari
Nada indah menggerakkan jari-jari
Membayangkan dirinya bidadari
Yang menari di bawah mentari
Ondel-ondel berbadan besar
Hatinya lembut, tidak kasar
Ia bicara tenang, tidak berkobar-kobar
Meski sedang berdiri di atas mimbar
Ondel-ondel tidak bisa membungkuk
Kaku dari tumit hingga tengkuk
Ketika di depannya ada bubur semangkuk
Punggungnya tetap tidak bisa melekuk
Wednesday, January 7, 2015
Tuesday, January 6, 2015
TADULAKO BULILI (Sulawesi Tengah)
Ketenangan desa Bulili, Sulawesi Tengah mendadak terusik. Beberapa laki-laki berbadan tegap dengan suara langkah yang dapat memecahkan gendang telinga, masuk ke desa. Mereka memakai seragam istana. Tujuan mereka hanya satu—mencari rumah Moro.
Penduduk
desa yang ramah mengantarkan lelaki berseragam itu hingga depan rumah Moro.
Kedua
orang tua Moro menyambut tamu berseragam itu dengan ramah. “Silakan masuk.”
Satu
persatu, tamu itu masuk ke dalam rumah Moro dan duduk berbaris, mirip ujung
sisir. “Kami utusan Raja Sigi,” kata ketua utusan raja memperkenalkan diri.
“Kami datang ke sini membawa amanat mulia dari raja.”
Orang
tua Moro saling berpandangan.
Tanpa
menunggu lama, ketua utusan raja melanjutkan, “Raja Sigi ingin melamar Moro.”
Kali
ini orang tua Moro terlonjak kaget. Untung saja kepala mereka belum sampai
membentur langit-langit rumah. “Eh, melamar, Pah?” bisik ibunya Moro sambil
mencolek suaminya. “Tapi kan enggak bisa begitu saja, Pah,”
“Iya,
Mah,” bisik bapaknya Moro. Ia membetulkan posisi duduknya. “Mau melamar Moro?”
tanyanya kepada ketua utusan.
Seluruh
utusan raja mengangguk dan mengucapkan kalimat secara bersamaan. “Raja Sigi
ingin melamar Moro. Titik.”
“Hmm,
hmm.” Suara bapaknya Moro terdengar penuh wibawa. “Kami harus bahas lamaran ini
dengan Tadulako Bulili. Mohon tunggu sebentar.”
Desa Bulili memiliki panglima perang yang disebut juga tadulako. Mereka terdiri dari tiga orang, Bantaili, Makeku dan Molove. Ketiganya bertugas menjaga keamanan desa.
Setelah
dijemput oleh kerabat, tiga tadulako tiba di rumah Moro. Mereka segera terlibat
dalam diskusi mengenai lamaran Raja Sigi. Diskusi berjalan lancar dan mereka
sepakat menerima lamaran Raja Sigi.
Kabar
bahagia ini segera disampaikan kepada Raja Sigi. Acara pernikahan disusun
sempurna. Pesta pernikahan berlangsung meriah. Penduduk desa Bulili mendoakan
kebahagiaan Moro dan Raja Sigi. Sejak saat itu, Raja Sigi menetap di desa
Bulili.
Sayangnya,
setelah beberapa bulan menikah, Raja Sigi dan Moro menghadapi masalah. Mereka
sering berbeda pendapat. Raja Sigi memutuskan kembali ke istana Sigi. Moro yang
sedang hamil, menetap di desa Bulili.
Mengetahui
kepergian Raja Sigi, tadulako segera menghubungi Moro. “Ada apa, Moro?” tanya
tandulako.
Moro
menjelaskan masalah yang dihadapi. Suaminya sudah lama pergi dan belum kembali.
Moro juga mengkhawatirkan makanan untuk bayi laki-laki yang baru dilahirkannya.
Akhirnya
tadulako Bantaili dan Makeku pergi ke istana untuk menemui Raja Sigi.
“Hey,
kenapa ke sini?” tanya Raja Sigi dengan tangan di pinggang.
Tadulako
Bantaili dan Makeku kaget melihat perubahan sikap Raja Sigi yang menjadi kasar.
“Ada berita seru. Bayi Baginda sudah lahir. Lucu. Sehat. Pipinya warna merah
jambu,” kata Bantaili.
“Oke.
Sekarang kalian boleh pergi!” Raja Sigi membalikkan badan.
“Oh,
masa gitu aja, Baginda?” tanya Bantaili. “Kami butuh lumbung padi untuk bayi
Baginda.”
“Hahaha.”
Raja Sigi tertawa sambil memegang perutnya. “Enggak mungkinnn. Kalian pikir aku
bodoh? Pasti lumbung padi itu untuk penduduk Bulili yang sedang kelaparan.”
“Suwer,
Baginda.” Makeku mengangkat jari telunjuk dan jari tengah. “Lumbung padi itu
untuk bayi Baginda.”
“Huh,
angkat saja lumbung padi di belakang istana.” Raja Sigi tersenyum sinis. “Pasti
mereka enggak kuat angkat lumbung raksasa dan penuh padi itu,” gumam Raja Sigi.
Kedua
tadulako Bulili langsung menuju halaman belakang. Sambil berkonsentrasi,
Bantaili menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan tenaga. Dengan sekali
hentakan, ia dapat mengangkat lumbung
padi itu dan membawanya pergi. Makeku mengikutinya dari belakang.
Melihat
hal itu, Raja Sigi kaget dan segera memanggil pengawalnya. “Pengawalll! Kejar
mereka!” Perintah Raja Sigi menggelegar.
Bantaili
dan Makeku mempercepat langkah. Di tepi sungai, Bantaili menguatkan pegangan
pada lumbung padi. Bantaili dan Makeku mengambil ancang-ancang sebelum
melompati sungai.
“Satu…
dua… tigaaa!”
Mereka berhasil melompat ke seberang
sungai, bahkan tidak ada satu butir padi yang jatuh dari lumbung. Keduanya
memang hebat, pantas mendapat empat jempol.
Pengawal
raja gagal melompati sungai dan kembali ke istana Sigi.
Suatu
hari tadulako Bulili mendapat undangan dari raja Sigi. Jamuan makan itu
diadakan di lokasi yang jauh dari desa Bulili. Ketiga tadulako datang bersamaan
dan duduk di samping Raja Sigi.
Ketika
jamuan makan berlangsung, Makeku tampak merenung sehingga Bantaili dan Molove
mendatanginya.
“Kenapa?”
tanya Bantaili.
“Rasanya
ada yang enggak beres,” bisik Makeku. “Pulang aja yuk?”
Ketiga
tadulako segera kembali ke desa Bulili dan melihat pengawal istana Sigi sedang
membakar desa Bulili. Pengawal lainnya sedang menggiring penduduk desa Bulili ke
Sigi.
Ketiga tadulako bekerja sama
melawan pengawal dan menghentikan kobaran api. Mereka juga membawa penduduk
kembali ke desa Bulili. Sejak itu Raja Sigi tidak lagi berani mengganggu desa
Bulili.
*diceritakan kembali
Subscribe to:
Posts (Atom)



