Selalu ada yang pertama. Begitu juga untuk urusan tugas kantor yang berangkat dini hari. Jam 02:30 saya berangkat ke bandara. Perjalanan darat yang panjang bisa digunakan untuk tidur dan dilanjut di pesawat.
Tiba di Juanda, langit cerah. Kami dijemput dan langsung diantar ke tempat tugas. Baiklah. Jam delapan lewat sedikit, tugas cuap-cuap dimulai.
Sore hari, kami baru diantar ke Hotel Garden Palace dan ternyata hotel ini berada di samping es yang ngetop itu, es krim Zangrandy. Cakeuppp.
Langsung teringat Sashi, keponakan yang kuliah di Surabaya dan Lia, temen tulis-menulis. Kontak-kontakan dengan mereka dan senangnya, mereka setuju janjian makan es krim besok sore.
Jadilah pertemuan itu, pertemuan kedua dengan Lia. Pertemuan pertama terjadi bertahun-tahun silam di Bandung. Ceritanya masih banyak dan kegiatannya juga tidak berkurang. Eh, kok ku enggak ditawarin proyek nulis-nulis sih? Hihihi.
Sashi datang kemudian. Ini anak tambah seperti bule aja, dengan kemeja kotak-kotak warna merah cerah.
Pesanan es kami tiga macam. Sejak coba es krim model cake ini, saya selalu memesan jenis yang ini dengan rasa beda-beda. Kali ini Cassata, perpaduan cokelat, vanila dan stroberi. Es krim jadul seperti ini susah kalau dibandingkan dengan es krim yang sekarang banyak dijumpai. Ada rasa yang beda. Dan pastinya es krim seperti ini punya penggemar khusus.
Showing posts with label Tempat Menginap. Show all posts
Showing posts with label Tempat Menginap. Show all posts
Friday, March 25, 2016
Wednesday, March 23, 2016
LOKASI STRATEGIS DI MAKASSAR
Menjelang maghrib, kami tiba di hotel Best Western Plus Makassar Beach, nama yang lumayan panjang. Lokasi hotel ini dekat dengan Pantai Losari yang ngehits di Makassar, trus juga ada Kawasan Kuliner Makassar. Pas deh.
Selagi petugas mengurus reservasi empat kamar, kami berempat mendapat welcoming drinks. Warna kuning pucat dan rasa segar. "Ini markisah," info saya kepada teman-teman. "Bukan ah, ini kayak nanas," bantah temanku. Petugas yang dekat kami meluruskan info. Ternyata minuman segar itu jus nanas. Hihihi, lidah oh lidah.
Reservasi beres, kami mendapat kunci untuk kamar-kamar di lantai 7. Kamar menghadap ke jalan raya, kala itu tidak tampak pemandangan seru, selain atap-atap bangunan. Ukuran kamar luas dengan lantai kamar yang dilapisi kayu. Ini favorit saya, daripada lantai karpet yang penuh debu. TV layar lebar menggantung di dinding, menghadap tempat tidur. Lemari, safety box, kulkas dan peralatan lainnya tersedia di kamar.
Sarapan disediakan di lantai 3. Banyak pilihan, dari yang standar seperti bubur ayam, nasi goreng, sosis, kentang, hingga makanan khas, seperti candil, bubur sumsum, jamu. Iya, jamu. Terakhir saya melihat jamu disediakan di hotel di Yogyakarta, tapi ini Makassar. Wow.
Kegiatan kami selama beberapa hari dilakukan di ruang pertemuan lantai 1 dan 2. Petugas mudah dijumpai luar ruangan, sehingga urusan minta-minta tolong jadi lancar. Ruangan yang tenang dengan corak karpet yang unik dan warna terang. Corak ini sempat ditanyakan ke teman yang asli Makassar. Katanya sih, ini emang corak khas Makassar.
Malam terakhir, saya punya janji dengan teman untuk bertemu di Mie Titi, Jalan Datu Museng. Sebenarnya lokasi itu bisa dijangkau dengan jalan kaki saja, tapi karena hujan rintik saya pilih alternatif lain. Petugas hotel yang berdiri di pintu membantu mencarikan taksi, tapi kemudian ia datang lagi dengan ide seru, "Naik becak saja, gimana?" Ah, itu tawaran yang tidak akan saya tolak, lagian sudah lama tidak naik becak. Petugas itu langsung menghubungi tukang becak yang menunggu tidak jauh dari hotel. Ia juga memberikan arahan dan menanyakan harga ke tukang becak itu dalam bahasa yang saya tidak paham. Terakhir petugas itu mengatakan, "Silakan." Jempol deh buat cara petugas itu bantu tamu, maksudnya, sayah.
Duduk di becak Makassar memberi pengalaman seru lainnya. Tukang becak itu berani memotong jalan kendaraan di jalan raya dan berjalan melawan arus. Duh, pak'e! Pastinya dia sudah terbiasa dan pakai perhitungan jitu. Alhamdulillah tiba selamat di Mie Titi.
Selagi petugas mengurus reservasi empat kamar, kami berempat mendapat welcoming drinks. Warna kuning pucat dan rasa segar. "Ini markisah," info saya kepada teman-teman. "Bukan ah, ini kayak nanas," bantah temanku. Petugas yang dekat kami meluruskan info. Ternyata minuman segar itu jus nanas. Hihihi, lidah oh lidah.
Reservasi beres, kami mendapat kunci untuk kamar-kamar di lantai 7. Kamar menghadap ke jalan raya, kala itu tidak tampak pemandangan seru, selain atap-atap bangunan. Ukuran kamar luas dengan lantai kamar yang dilapisi kayu. Ini favorit saya, daripada lantai karpet yang penuh debu. TV layar lebar menggantung di dinding, menghadap tempat tidur. Lemari, safety box, kulkas dan peralatan lainnya tersedia di kamar.
Sarapan disediakan di lantai 3. Banyak pilihan, dari yang standar seperti bubur ayam, nasi goreng, sosis, kentang, hingga makanan khas, seperti candil, bubur sumsum, jamu. Iya, jamu. Terakhir saya melihat jamu disediakan di hotel di Yogyakarta, tapi ini Makassar. Wow.
Kegiatan kami selama beberapa hari dilakukan di ruang pertemuan lantai 1 dan 2. Petugas mudah dijumpai luar ruangan, sehingga urusan minta-minta tolong jadi lancar. Ruangan yang tenang dengan corak karpet yang unik dan warna terang. Corak ini sempat ditanyakan ke teman yang asli Makassar. Katanya sih, ini emang corak khas Makassar.
Malam terakhir, saya punya janji dengan teman untuk bertemu di Mie Titi, Jalan Datu Museng. Sebenarnya lokasi itu bisa dijangkau dengan jalan kaki saja, tapi karena hujan rintik saya pilih alternatif lain. Petugas hotel yang berdiri di pintu membantu mencarikan taksi, tapi kemudian ia datang lagi dengan ide seru, "Naik becak saja, gimana?" Ah, itu tawaran yang tidak akan saya tolak, lagian sudah lama tidak naik becak. Petugas itu langsung menghubungi tukang becak yang menunggu tidak jauh dari hotel. Ia juga memberikan arahan dan menanyakan harga ke tukang becak itu dalam bahasa yang saya tidak paham. Terakhir petugas itu mengatakan, "Silakan." Jempol deh buat cara petugas itu bantu tamu, maksudnya, sayah.
Duduk di becak Makassar memberi pengalaman seru lainnya. Tukang becak itu berani memotong jalan kendaraan di jalan raya dan berjalan melawan arus. Duh, pak'e! Pastinya dia sudah terbiasa dan pakai perhitungan jitu. Alhamdulillah tiba selamat di Mie Titi.
Wednesday, November 12, 2014
ARTOTEL: Hotel di Tengah Kota
Satu lagi tempat menginap yang bisa dijadikan pilihan untuk pendatang di Jakarta dan berkegiatan di pusat kota. Hotel ini menghadap ke pusat perbelanjaan Sarinah dan memiliki akses untuk mendapatkan alat transportasi umum.
Gambar pada dinding luar bangunan ini sedikit membingungkan jika dilihat pada saat terang, tapi tunggulah hingga malam. Ada kesan khusus dan misterius yang timbul dari gambar ini.Petugas hotel ramah dan kualitas makanan yang disajikan sesuai dengan harga yang ditawarkan. Kamar bersih dan tertata apik. Sempat 'menipu' mata saya, bentuk kursi yang disediakan dalam kamar unik.
Subscribe to:
Posts (Atom)








