Bee saw Squirrel draw a picture. Is it for Bee? No, it's for Monkey.
Title: Is it for Me?
Author: Uncu Nana
Magazine: C'nS Junior Edition 25 Volume XI February 2014
Friday, February 28, 2014
Friday, February 7, 2014
Tips Menulis Fiksi Horor untuk Pemula
oleh Benny Rhamdani
1. Mulai dengan menyusun daftar ide tulisan. Ingat, semakin banyak ide, semakin membantu kita untuk memilih ide yang akan ditulis. Prioritaskan ide yang original/asli, unik, dan belum banyak ditulis. Karenanya penting sekali membaca banyak referensi sebelumnya agar tahu peta fiksi horor yang akan kita terjuni. Jangan puas hanya dengan membaca 2-3 karya fiksi horor. Pilih referensi yang benar-benar populer dan berkualitas dari dedengkotnya.
Setelah memilih ide, cobalah untuk mulai memikirkan hal-hal yang tidak ingin terjadi dalam hidup kita juga orang lain. Semakin menakutkan, semakin baik. Coba pula untuk membayangkannya di malam hari.
Contoh:
-. Ide yang kita pilih adalah 'Permainan Ciluk Ba!"
-. Lalu kita membayangkan menjadi anak kecil didatangi seorang baby sitter. Dia melakukan permainan ciluk Ba. Ketika ciluk, babysitter itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Saat bilang Ba, dia membukanya lalu wajahnya berubah jadi badut (atau hal lain yang menakutkan).
2. Perhatikan detail elemen di dalam tulisan. Seperti halnya menulis genre lainnya, menulis fiksi horor harus memerhatikan detail elemen yang dihadirkan. Mulai dari tokoh utama sampai minor.Alasan kita harus mengambil setting di luar negeri (karena menghindari hantu-hantu pasaran yang malah menggiring ke cerita mistik), bahkan plot yang kita pilih. Apakah kita benar-benar perlu dengan sosok penjelmaan yang menyeramkan? Kalau kita hadirkan urband legend lokal, referensi yang kita miliki sebanyak apa. Jangan sampai ada celah pembaca bertanya-tanya. Yakinkan bahwa setiap yang kita tulis, kita tahu jawabannya.
contoh:
Kenapa memilih badut sebagai karakter untuk menakut-nakuti?
Sebuah sumber dari google (misalnya): survey menyebutkan bahwa 75% anak (bahkan sampai dewasa) takut dengan badut, terutama dengan mata besar.
1. Mulai dengan menyusun daftar ide tulisan. Ingat, semakin banyak ide, semakin membantu kita untuk memilih ide yang akan ditulis. Prioritaskan ide yang original/asli, unik, dan belum banyak ditulis. Karenanya penting sekali membaca banyak referensi sebelumnya agar tahu peta fiksi horor yang akan kita terjuni. Jangan puas hanya dengan membaca 2-3 karya fiksi horor. Pilih referensi yang benar-benar populer dan berkualitas dari dedengkotnya.
Setelah memilih ide, cobalah untuk mulai memikirkan hal-hal yang tidak ingin terjadi dalam hidup kita juga orang lain. Semakin menakutkan, semakin baik. Coba pula untuk membayangkannya di malam hari.
Contoh:
-. Ide yang kita pilih adalah 'Permainan Ciluk Ba!"
-. Lalu kita membayangkan menjadi anak kecil didatangi seorang baby sitter. Dia melakukan permainan ciluk Ba. Ketika ciluk, babysitter itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Saat bilang Ba, dia membukanya lalu wajahnya berubah jadi badut (atau hal lain yang menakutkan).
2. Perhatikan detail elemen di dalam tulisan. Seperti halnya menulis genre lainnya, menulis fiksi horor harus memerhatikan detail elemen yang dihadirkan. Mulai dari tokoh utama sampai minor.Alasan kita harus mengambil setting di luar negeri (karena menghindari hantu-hantu pasaran yang malah menggiring ke cerita mistik), bahkan plot yang kita pilih. Apakah kita benar-benar perlu dengan sosok penjelmaan yang menyeramkan? Kalau kita hadirkan urband legend lokal, referensi yang kita miliki sebanyak apa. Jangan sampai ada celah pembaca bertanya-tanya. Yakinkan bahwa setiap yang kita tulis, kita tahu jawabannya.
contoh:
Kenapa memilih badut sebagai karakter untuk menakut-nakuti?
Sebuah sumber dari google (misalnya): survey menyebutkan bahwa 75% anak (bahkan sampai dewasa) takut dengan badut, terutama dengan mata besar.
Wednesday, February 5, 2014
Siapa Pengganti Pak Jenggot?
“Paman
Patih,” sapa Raja Zhorifiandi. “Kita
harus mencari pengganti Pak Jenggot. Dia
sudah terlalu tua dan letih untuk mengamati gunung berapi.” Gunung berapi di negeri Kalomolomo harus
diamati terus-menerus. Berdasarkan
perhitungan para ahli, gunung itu akan meletus dalam waktu dekat.
“Baik,
Tuanku. Tetapi, siapa yang pantas menggantikannya?”
“Tentu
orang yang teliti, seperti Pak Jenggot.
Dia harus bisa melihat semua perubahan kecil di sekitar gunung.”
Paman
Patih langsung membuat pengumuman dan menyiarkannya ke seluruh negeri Kalomolomo. Pada waktu yang ditentukan, seratus orang
datang melamar sebagai pengganti Pak Jenggot.
Wah, banyak sekali, padahal yang diperlukan hanya satu orang saja.
Tanpa
hilang akal, Paman Patih membuat ujian.
Paman menyiapkan delapan gambar gunung yang sekilas tampak sama. Padahal, satu gambar memiliki perbedaan. Pada gambar itu, Paman Patih menambahkan
satu batu di sekitar gunung.
Seluruh
pesereta diberi waktu untuk mengamati delapan gambar dan memilih satu gambar
yang berbeda. Dari seleksi ini ada
delapan peserta lulus ujian pertama.
“Hmm,
masih terlalu banyak,” gumam Paman Patih.
Dengan cepat, Paman Patih menyiapkan ujian kedua. Paman mengambil dua lembar kertas. Satu kertas berwarna putih dan yang lain
berwarna hitam. Di atas kertas putih,
Paman Patih menggambar garis hitam, sepanjang 20 sentimeter. Sedangkan di atas kertas hitam, Paman membuat
garis putih sepanjang 20 sentimeter.
Setelah
melihat kedua garis tersebut, peserta memilih satu garis yang paling
panjang. Peserta pertama maju dan
menuliskan jawaban di secarik kertas, “Garis putih, pasti.”
Baca kelanjutan ceritanya, ya.
Judul: Siapa Pengganti Pak Jenggot?
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: SOCA 17 Januari Tahun II 2014
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: SOCA 17 Januari Tahun II 2014
Monday, February 3, 2014
RESENSI: Teman Baru
Ini resensi Nelfi Syafrina untuk novel Teman Baru bisa dibaca di sini.
Selanjutnya, resensi mas Sutono untuk novel yang sama bisa dibaca di sini. :)
Selanjutnya, resensi mas Sutono untuk novel yang sama bisa dibaca di sini. :)
Friday, January 31, 2014
Why?
Monkey was upset when his friends avoided him. Why? What did he do wrong?
Title: Why?
Author: Uncu Nana
Magazine: C'nS Junior Edition 24 Volume XI January 2014
Title: Why?
Author: Uncu Nana
Magazine: C'nS Junior Edition 24 Volume XI January 2014
Wednesday, January 29, 2014
Ketika Amay Bertugas
Raja Zhorifiandi dan Paman Patih dari negeri Kalomolomo mendadak harus
mengunjungi negeri lain. Untuk mengurus negeri Kalomolomo selama kepergiannya,
Raja Zhorifiandi menugaskan Amay.
Penduduk Kalomolomo mula-mula bertanya-tanya tentang penunjukkan Amay.
“Kenapa Amay?” tanya mereka. Tapi tidak ada satupun penduduk yang mengetahui
alasan penunjukkan itu. Segera mereka melupakan pertanyaan itu karena mereka
lihat Amay mau mendengarkan keluh-kesah penduduk. Sikap yang sama seperti Raja
Zhorifiandi.
Suatu kali Cristin, pembuat perhiasan dari beling, menemui Amay. “Amay, aku
sedang dalam kesulitan.” Muka Cristin muram. Ia seperti orang paling malang di
negeri Kalomolomo.
“Ada apa?” tanya Amay penuh perhatian.
Cristin mengeluhkan penduduk yang tidak menggunakan barang-barang dari
kaca. Sehingga mereka tidak mungkin lagi memecahkan barang-barang kaca dan
membuang beling. “Kalau begini terus, bagaimana bisnisku?” keluh Cristin. “Masa
aku harus memecahkan piring-piringku sendiri?”
Pagi-pagi sekali Amay membuat keputusan yang langsung dibacakan oleh Dani,
petugas istana. Bunyi keputusan itu mengharuskan penduduk negeri Kalomolomo
menggunakan barang-barang dari kaca.
Penduduk mula-mula kaget mendengar keputusan itu. Tetapi mereka menuruti
keputusan yang dibuat Amay. Pasti Amay bermaksud baik, pikir penduduk.
Selang dua hari, Tabib Eko tampak terburu-buru datang ke tempat Amay.
“Amay, bagaimana ini?” tanya Tabib Eko.
“Bagaimana apa?” tanya Amay bingung.
Baca kelanjutan ceritanya, ya.
Judul: Ketika Amay Bertugas
Penulis: Erna Fitrini
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 41 XLI 16 Januari 2014
Monday, January 13, 2014
RENCANA SEMPURNA
“Besok mancing, yuk?” ajak Abdul
saat jam istirahat sekolah. “Ikan di sungai dekat rumah Pak Lurah besar-besar.
Kemarin aku lihat ada yang dapat sebesar ini.” Abdul menunjukkan pangkal
lengannya. “Mana tempatnya adem. Ada pohon jambu besar.”
“Aku ikut,” jawab Arif cepat. “Nanti
kubuatkan umpan yang manjur. Sekali nyemplung, tuh umpan pasti langsung dilahap
ikan.”
Krisna tidak berkomentar.
Abdul dan Arif saling berpandangan.
“Ikut, enggak?” tanya Arif sambil menyikut lengan Krisna.
Krisna menarik napas panjang sebelum
menjawab. “Mau sih. Tapi pancingku patah,” jawab Krisna pelan.
“Beres. Kamu pakai pancingku saja.
Aku punya tiga,” kata Abdul.
Hari Kamis besok, mereka tidak
sekolah karena tanggal merah, perayaan hari Isra Mi’raj. Mereka bertiga
melanjutkan rencana memancing esok hari hingga bel tanda akhir jam istirahat
berbunyi.
“Jadi besok kumpul di rumahku pagi.
Jangan telat,” kata Abdul kepada Arif dan Krisna sembari jalan menuju kelas.
“Beres!” teriak Arif dan Krisna,
menuju bangku masing-masing.
Menjelang akhir jam pelajaran agama,
Pak Iskandar membagi murid-murid ke dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri
dari tiga murid. Abdul, Arif dan Krisna berada dalam satu kelompok. Tetapi sama
seperti murid lainnya, mereka bingung.
“Kita mau dikasih tugas apa sih?”
bisik Arif.
Krisna mengangkat bahu. Jari
telunjuk ia letakkan di depan mulut, meminta Arif diam.
“Anak-anak,” kata Pak Iskandar.
“Besok hari Isra Mi’raj. Banyak mesjid dan musola yang mengadakan ceramah. Tugas
kalian mendatangi mesjid yang di sekitar rumah dan mendengarkan ceramah. Kalian
catat ceramah itu dan kumpulkan hari Jumat.” Pak Iskandar memandang seisi
kelas. “Ada yang mau ditanyakan?”
Arif dan Krisna tertunduk lemas.
Sedangkan Abdul meninju-ninju ransel karena gemas.
Tak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi.
“Rencana kita gagal,” keluh Arif dalam perjalanan pulang bersama Abdul dan Krisna.
“Eh, siapa bilang?” seru Abdul. Matanya berkilat-kilat. “Kita tetap mancing
besok. Soal tugas dari Pak Iskandar, serahkan aku saja.” Abdul menepuk dadanya.
“Aku punya rencana sempurna.”
Esok hari, Arif dan Krisna menjemput Abdul di rumahnya. Selain perlengkapan
memancing, mereka juga membawa bekal makan siang. Sambil bernyanyi-nyanyi,
mereka menuju sungai.
Sampai di sungai, mereka melihat seorang pemancing, duduk di bawah pohon
jambu.
“Kita terlambat. Tempat favorit sudah terisi,” keluh Abdul. Mereka akhirnya
duduk di tempat yang terpapar sinar matahari langsung.
Abdul, Arif dan Krisna membongkar perlengkapan mancing. Arif dengan bangga
menunjukkan umpan yang ia buat. “Kok warnanya gitu sih?” tanya Krisna bergidik
karena jijik. Ia dan Abdul mengambil umpan milik mereka sendiri.
“Ini dari campuran kuning telur, cacing dan bahan rahasia lainnya.” Arif
tersenyum misterius. Ia memasang umpan pada mata kail.
“Apaan?” tanya Abdul dan Krisna bersamaan.
“Yeee, kan tadi sudah dibilang. Bahan rahasia. Tidak akan kuberi tahu.”
Arif melempar mata kail ke dalam sungai. Dan benar saja. Dalam hitungan
sepuluh, umpan Arif sudah dimakan ikan.
Melihat hasil pancingan Arif, Abdul dan Krisna mengganti umpan. Kini mereka
menggunakan umpan buatan Arif. Umpan buatan Arif benar-benar manjur.
Setelah masing-masing mendapat delapan ekor ikan, mereka memutuskan untuk
pulang. Mereka tidak tahan berjemur di bawah sinar matahari yang terik.
“Eh, besok bilang apa ke Pak Iskandar?” tanya Arif di perjalanan pulang.
“Iya. Dari tadi cuman bilang ‘rencana sempurna’. Apaan?” tanya Krisna.
Abdul tergelak. “Bilang saja ban sepeda kita bocor.”
Arif menepuk lengan Abdul. “Eh, seisi sekolah juga tahu kalau aku enggak
punya sepeda,” protes Arif.
“Kamu bonceng sepedaku. Jadi ban sepedaku dan sepeda Krisna yang bocor.
Selesai tambal ban, ceramahnya sudah bubar,” jelas Abdul.
“Nah itu baru rencana sempurna,” kata Arif mengangguk-angguk.
Baca cerita lengkap di majalah Bobo.
Judul: Rencana Sempurna
Penulis: Erna Fitrini
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 39 XLI 2 Januari 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)





