Rasa kehilangan tidak pernah mudah dilewati, bergayut terus hingga pipi basah. Seperti rasa kehilangan yang ada di awal tahun 2014 ini. Alhamdulillah ada proses pembelajaran dari kejadian ini. Rasa itu berangsur tertutupi dengan 'kutipan' yang punya arti dalam.
Setelah pertimbangan ini-itu, akhirnya pemicu kisah dihilangkan. Bagian yang bikin nitik biar jadi milik pribadi. Kisah lanjutan dimuat pada rubrik Gado-gado, Femina.
Gado-gado, Femina No 38/XLII, 27 Sep -3 Okt 2014
Monday, October 6, 2014
Wednesday, August 27, 2014
Sama-sama Psikolog
Hari itu saya menunggu pembagian buku rapor anak saya. Saya duduk di
dekat meja guru dan kebetulan bisa mendengar dengan jelas obrolan antara
guru dan orang tua murid lain.
“Ibu perlu mendiskusikan perilaku putra Ibu ke psikolog. Mau saya aturkan jadwal bertemu dengan psikolog sekolah, Bu?” ujar ibu guru kepada orang tua salah satu murid.
Orang tua murid itu memegang telinganya sendiri, tampak jengah. Ia kemudian balik bertanya, “Siapa nama psikolognya, Bu?”
Ibu guru menyebut nama psikolog yang dimaksud, lengkap dengan gelarnya.
Orang tua murid tadi mendadak tersenyum lebar seraya berkata, “Oh, itu, sih, adik kelas saya waktu di fakultas psikologi. Dia pasti kenal saya.”
Erna Fitrini, Jakarta
http://www.readersdigest.co.id/humor/humoria/samasama.psikolog/007/001/665
“Ibu perlu mendiskusikan perilaku putra Ibu ke psikolog. Mau saya aturkan jadwal bertemu dengan psikolog sekolah, Bu?” ujar ibu guru kepada orang tua salah satu murid.
Orang tua murid itu memegang telinganya sendiri, tampak jengah. Ia kemudian balik bertanya, “Siapa nama psikolognya, Bu?”
Ibu guru menyebut nama psikolog yang dimaksud, lengkap dengan gelarnya.
Orang tua murid tadi mendadak tersenyum lebar seraya berkata, “Oh, itu, sih, adik kelas saya waktu di fakultas psikologi. Dia pasti kenal saya.”
Erna Fitrini, Jakarta
http://www.readersdigest.co.id/humor/humoria/samasama.psikolog/007/001/665
Wednesday, July 30, 2014
KEMBANG API
Andriani
memandang heran ke arah orang-orang yang bergegas masuk ke dalam toko
pakaian. Beberapa orang bahkan mengantri
di depan pintu karena toko penuh sesak.
“Ada apa sih?” Andriani menjawil
lengan Had yang berdiri di sampingnya.
“Yah,
ada bajulah…,” jawab Had asal.
“Kok
sampai ramai begitu?”
Tiba-tiba
Had menepuk jidatnya, sambil tergelak.
“Oh iya. Ini liburan pertamamu di sini.
Jadi kamu belum tahu kebiasaan penghuni langit ini.”
“Emang,
apa?”
Bukannya
menjawab pertanyaan, Had malah bertanya balik.
“Eh, kamu belum punya kan? Beli
sekarang saja.” Had menarik Andriani,
masuk ke dalam antrian.
Andriani
memperhatikan orang-orang yang keluar dari dalam toko. Setiap orang membawa satu kotak plastik besar
yang bertuliskan Jaketair di sisi
kotak. “Apa isi kotak sebesar itu?”
tanya Andriani. Selanjutnya baca di ...
![]() |
| Judul: Kembang Api Penulis: Erna Fitrini Majalah:BOBO 13 XLII 3 Juli 2014 |
Tuesday, July 8, 2014
SEMPURNA
“Aruuum. Tunggu!”
Arum menoleh ke belakang dan melihat
Dhani berlari. Tangan kanan Dhani memegang kacamatanya agar tidak jatuh. Rambut
keritingnya yang panjang melompat-lompat di belakang kepala. “Apa?” tanya Arum
setelah Dhani di dekatnya.
Pipi Dhani yang bulat bersemu merah.
“Ntar sore latihan di rumahmu lagi ya?”
Hampir dua minggu, Dhani, Arum dan
Mawar latihan menari untuk acara perpisahan kakak kelas di rumah Arum. Tarian
modern yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan musik dan kostum tari juga mereka
buat sendiri.
“Eh!” seru Arum kaget. “Enggak bisa.
Pokoknya mulai hari ini enggak bisa.”
“Kenapa? Kan enak di situ. Semua
peralatan tari juga ada di situ.”
“Enggak bisa,” jawab Arum cepat.
“Udah ya, aku musti buru-buru pulang, nih.” Arum berlari meninggalkan Dhani.
Mulut Dhani terbuka. Matanya
membulat. Dhani bingung melihat Arum pergi. “Lho, terus latihan di mana?” tanya
Dhani pelan. Pertanyaan yang ditujukan ke dirinya sendiri. Selanjutnya baca di ...
![]() |
| Judul: Sempurna Penulis: Erna Fitrini Majalah: BOBO 11 XLII 19 Juni 2014 |
Sunday, June 15, 2014
Tips Membuat Judul Cerita - Tips Dari Nenek - Klinik Cerita - Bobo Online
Tips Membuat Judul Cerita - Tips Dari Nenek - Klinik Cerita - Bobo Online
Ketika akan masuk toko, pasti kamu mengintip barang di etalase. Begitu juga dengan cerita. Sebelum membaca isi cerita, pasti pembaca akan melihat judulnya dulu. Kalau menarik, pembaca masuk. Kalau tidak menarik, lewat, deh! Nah, Nenek punya beberapa tips membuat judul cerita .
1. Jangan Menceritakan Isi dalam Judul.
Apa yang kamu bayangkan ketika membaca judul sebuah cerpen “Akhirnya Adik Tidak Nakal Lagi”? Pasti yang terbayang adalah cerita tentang seorang adik yang sering berbuat nakal pada kakaknya. Karena sesuatu hal, si adik sadar, kemudian tidak lagi berbuat nakal pada kakaknya. Enggak seru, kan, kalau kita bisa menebak isi ceritanya?
2. Bikin Pembaca Penasaran.
Pasti akan berbeda ketika kamu membaca judul cerpen yang lain, misalnya “Roket Meleset”. Apa yang terpikir? Judulnya lucu? Kenapa ada roket bisa meleset? Lalu, kamu pun penasaran untuk membaca cerpen itu!
3. Sesuai dengan Isi Cerita.
Eits, namun, bukan berarti kita bisa sembarangan membuat judul dengan kata yang aneh-aneh, lo! Meskipun mengandung kata unik dan bombastis, judul harus tetap sesuai dengan isi ceritamu. Kalau judulnya Roket Meleset, ceritanya juga harus tentang roket yang meleset. Entah apanya yang meleset, itu terserah kamu sebagai pembuat cerita.
4. Bebas Memilih Waktu.
Kamu bebas membuat judul sebelum atau sesudah menulis cerita. Kalau lebih mudah untukmu membuat judul dahulu baru menulis isi ceritanya, silakan. Tetapi, tidak salah juga kalau kamu lebih suka untuk menulis cerita, kemudian membuat judulnya belakangan.
5. Buatlah Alternatif.
Jika kamu ingin belajar membuat judul yang menarik, cobalah membuat beberapa pilihan judul. Kamu boleh menulis lima, delapan, atau sepuluh judul untuk satu ceritamu. Rasa-rasakan, mana di antara pilihan judul itu yang paling pas.
Nah, selamat mencoba, ya! ^_^
Sumber foto: dok. Bobo, philippawerry.blogspot.com, giftgenies.com
Ketika akan masuk toko, pasti kamu mengintip barang di etalase. Begitu juga dengan cerita. Sebelum membaca isi cerita, pasti pembaca akan melihat judulnya dulu. Kalau menarik, pembaca masuk. Kalau tidak menarik, lewat, deh! Nah, Nenek punya beberapa tips membuat judul cerita .
1. Jangan Menceritakan Isi dalam Judul.
Apa yang kamu bayangkan ketika membaca judul sebuah cerpen “Akhirnya Adik Tidak Nakal Lagi”? Pasti yang terbayang adalah cerita tentang seorang adik yang sering berbuat nakal pada kakaknya. Karena sesuatu hal, si adik sadar, kemudian tidak lagi berbuat nakal pada kakaknya. Enggak seru, kan, kalau kita bisa menebak isi ceritanya?
2. Bikin Pembaca Penasaran.
Pasti akan berbeda ketika kamu membaca judul cerpen yang lain, misalnya “Roket Meleset”. Apa yang terpikir? Judulnya lucu? Kenapa ada roket bisa meleset? Lalu, kamu pun penasaran untuk membaca cerpen itu!
Eits, namun, bukan berarti kita bisa sembarangan membuat judul dengan kata yang aneh-aneh, lo! Meskipun mengandung kata unik dan bombastis, judul harus tetap sesuai dengan isi ceritamu. Kalau judulnya Roket Meleset, ceritanya juga harus tentang roket yang meleset. Entah apanya yang meleset, itu terserah kamu sebagai pembuat cerita.
4. Bebas Memilih Waktu.
Kamu bebas membuat judul sebelum atau sesudah menulis cerita. Kalau lebih mudah untukmu membuat judul dahulu baru menulis isi ceritanya, silakan. Tetapi, tidak salah juga kalau kamu lebih suka untuk menulis cerita, kemudian membuat judulnya belakangan.
Jika kamu ingin belajar membuat judul yang menarik, cobalah membuat beberapa pilihan judul. Kamu boleh menulis lima, delapan, atau sepuluh judul untuk satu ceritamu. Rasa-rasakan, mana di antara pilihan judul itu yang paling pas.
Nah, selamat mencoba, ya! ^_^
Sumber foto: dok. Bobo, philippawerry.blogspot.com, giftgenies.com
Thursday, June 5, 2014
ANAK AYAM LAGI
“Tumben
ada anak ayam di sini,” kata Giana sambil menunjuk dua anak ayam berbulu kuning
yang berjalan di tepi sungai.
“Eh, jangan diganggu. Nanti
emaknya…,” kata Hatie.
“Emaknya?” potong Giana cepat.
Induknya kaliiii.”
“Iya, induknya,” kata Hatie
mengoreksi. “Induknya nanti marah.”
“Tapi mana induknya?” Giana
meletakkan tangkai pancingnya dan berdiri. Badannya berputar-putar melihat ke
sekeliling. “Enggak ada induk ayam.”
Hatie menarik mata kail dari sungai.
Ia kemudian berdiri di dekat Giana. Ia juga mencari induk ayam. Telapak
tangannya diletakkan di atas alis untuk menghalangi cahaya matahari ke mata.
“Eh, iya,” kata Hatie.
“Ini pasti anak ayam yang tertinggal dari induknya.”
“Punya siapa, ya?” tanya Hatie.
“Itu pasti anak ayamnya Bu Fitri,”
tebak Giana.
“Tahu darimana?”
“Yang punya peternakan ayam di
sekitar sini kan hanya Bu Fitri,” jawab Giana. “Lagian, aku pernah lihat anak
ayam Bu Fitri berbulu kuning.”
Hatie tertawa. “Warna anak ayam
memang banyak yang seperti itu. Belum ada anak ayam yang berwarna hijau atau
ungu.”
“Kita tangkap, yuk?” ajak Giana
sambil membereskan peralatan mancingnya.
Hatie menatap Giana dengan heran.
“Buat apa?” Selengkapnya baca di ...
Judul: Anak Ayam Lagi
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: Bobo 07 Tahun XLII 22 Mei 2014
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: Bobo 07 Tahun XLII 22 Mei 2014
Wednesday, May 21, 2014
Bagaimana Memulai Cerita? - Tips Dari Nenek - Klinik Cerita - Bobo Online
Tentu saja yang sesuai dengan isi ceritamu. Sebelum membuat cerita,sebaiknya kamu memang menentukan alurnya. Kamu bisa membuat kerangkaceritamu. Nah, ketika harus memulai kalimat pertama, kamu bisamembuatnya dalam bentuk dialog.
Kamu juga bisa membuka ceritamu dengan menampilkan konflik. Misalnya, cerita dibuka dengan adegan seorang anak perempuan yang menangis karena nilai ulangannya nol. Setelah itu, baru mengalir cerita kenapa anak itu bisa dapat nol, bagaimana dia menyampaikan hal itu pada orang tuanya,dan seterusnya.
Jangan terlalu panjang dan bertele-tele ketika membuka cerita.
Pembuka cerita berfungsi untuk menggiring pembaca menuju cerita yang akan kita tampilkan. Kalau pembukaannya saja sudah terlalu panjang,pembaca akan bosan duluan. Bukannya melanjutkan ke inti ceritanya,pembaca akan meninggalkan ceritamu tanpa peduli bahwa sebenarnya isi ceritamu bagus.
Ciptakan suasana seru yang bikin penasaran di awal ceritamu.
Misalnya, kamu ingin membuat cerita tentang persahabatan anak yang kutu buku dan anak yang sangat membenci buku. Nah, akan seru kalau cerita dibuka dengan adegan ketika si kutu buku menemukan buku kesayangannya yang dirobek-robek. Kebetulan, si benci buku sedang memegang gunting. Hmm, benarkah si benci buku yang menghancurkan buku itu? Buatlah pembaca
menjadi penasaran, ya!
Oya, sebisa mungkin, jangan kamu paparkan dulu isi cerita dan pemecahan masalah di awal cerita. Kalau sudah diceritakan di depan, pembaca tidak akan penasaran lagi pada ceritamu.
Sudah banyak tips yang diberikan. Jadi, bagaimana kamu akan mengawali ceritamu? Jangan hanya dipikirkan, tetapi segera tulis ceritamu, ya!
Sumber:
Bagaimana Memulai Cerita? - Tips Dari Nenek - Klinik Cerita - Bobo Online
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)