Sunday, January 31, 2016

TAPLAK MEJA BUNDAR: MOTIF NANAS

Sebenarnya sudah lama Mama minta dibuatkan taplak bundar, tapi belum juga menemukan pola yang sesuai. Maksudnya sesuai di sini, ukuran lebih dari 120cm diameter dan pola tidak terlalu rumit, supaya bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Alhasil pola yang didapatkan motif pineapple yang sudah ngehits sekali tingkat kesulitan plus kerumitannya. Jadilah pola itu yang digunakan. Proses merajut diselingin dengan berbagai tugas lainnya, termasuk tugas di luar kota. 

Menjelang tiga lingkaran terakhir, benang habis. Sebelumnya benang dibeli dari toko online yang ada di Surabaya. Untuk pemesanan lagi, mungkin perlu waktu sekitar tiga hari dan tidak ada jaminan warna benang akan sama. Hal ini terjadi karena proses pewarnaan benang akan menghasilkan warna yang sedikit berbeda dari hasil proses sebelumnya. 
Ternyata Mama punya solusi yang lebih enteng. "Udah selesai sampai batas itu aja. Enggak kelihatan ini bedanya." Baiklah, taplak dinyatakan selesai walau kurang tiga lingkaran dari pola.

Monday, January 11, 2016

PENNE DENGAN SAUS TOMAT DAN UDANG REBON

Minggu lalu beli penne, tapi belum dimasak juga. Hari ini sepertinya tepat untuk sajian penne, tapi galau menentukan saus yang cocok. Bolognese atau carbonara? Bolak balik buka kulkas untuk memastikan kelengkapan bahan. Tidak ada daging giling untuk bikin bolognese. Tidak ada jamur merang untuk carbonara. Modif lah.

Alhasil, setelah penne direbus al dente, dimasukkan ke saus yang terdiri dari campuran udang rebon, irisan tomat dan seledri (hasil panen).
Tarrraaa, tidak sampai 15 menit, semua selesai. Ini belum dihitung waktu untuk cuci perabotan dan bersihkan kompor.

Wednesday, January 6, 2016

KUAH ASAM IKAN

Entah sejak kapan, makanan berkuah bening, seperti sop atau soto, selalu menarik untuk dicicipi. Makanan seperti ini menambah selera makan, apalagi dimakan kala udara mendung. 
Menu satu ini terinspirasi dari kuah asam ikan kakap di Bunga Pepaya. Eksekusi dijalankan berdasarkan ingatan. 
Bahannya walau banyak, tapi sederhana. Ikan alu-alu dan bumbu lainnya tersedia di rumah, kecuali daun kemangi. Saya pakai ukuran terserah hampir untuk semua bahan.

Bahan:
4 potong ikan yang telah bersih
400 ml air

Irisan bawang putih
Irisan bawang merah

Jahe
Lengkuas
Daun Jeruk
Sereh yang dimemarkan
Cabe merah giling
Irisan rawit
Tomat
Daun kemangi
Daun bawang
Jeruk nipis
Garam

Cara buat:
Didihkan air dan masukkan bawang putih, bawang merah, jahe, lengkuas, daun jeruk, sereh, cabe giling dan rawit. Aduk sampai tercium aroma wangi, kira-kira tiga menit. Masukkan ikan dan daun bawang. Tunggu hingga mendidih, kemudian masukkan garam, tomat, kemangi dan air jeruk nipis. Angkat dan sajikan.


 

Wednesday, December 30, 2015

SUP UDANG UMPAN

Ini hari kedua menyiapkan makan siang satu porsi untuk diri sendiri. Mulanya sih, mau bikin pasta carbonara. Karena hidung yang agak mampet dan bersin-bersin di pagi hari, menu makan siang berubah total. Harus yang berkuah panas, pakai tomat dan pedas.
Di freezer ada sebungkus udang kecil sisa umpan yang biasa dipakai Baba kala mancing. Cukuplah ini untuk protein satu porsi makanan. Tinggal menyiapkan racikan kuah. Walaupun serba sedikit dan takaran terserah-serah, bumbu harus lengkap. Sereh, lengkuas, jahe, cabe giling, rawit, daun jeruk, daun kunyit, tomat, jeruk nipis, seledri, garam, bawang putih dan bawang merah.
Prosesnya tinggal cemplung-cemplung. Didihkan air, kemudian masukkan bawang putih dan bawang merah giling. Tunggu hingga wangi. Tambahkan sereh, daun kunyit, jahe, lengkuas, cabe giling, rawit dan udang. Aduk hingga udang berubah warna. Masukkan tomat, garam, seledri dan air jeruk nipis. Angkat.
Praktis kan?


Wednesday, October 28, 2015

BUNGA PEPAYA

Kemarin mulai lagi tur maksi bersama Dewi, satu kebiasaan yang sempat terhenti sekian lama, tanpa sadar penyebabnya. Berawal dari ajakan minggu lalu dan Dewi yang memilih lokasi. Mula-mula disebut Bunga Pepaya, saya langsung tahu itu restoran Manado di sekitaran Menteng. Yang jadi keraguan adalah kehalalan masakan yang dihidangkan. Buka google dan cek rumah makan satu itu. Informasi yang dibutuhkan tersedia jelas, termasuk jenis masakan yang dihidangkan. Jadilah hari penentuan.
Restoran ini mudah ditemui, Jalan RP. Soeroso nomor 16, sebelah kiri jalan. Tulisan besar berwarna merah akan terlihat dengan jelas. Begitu masuk, kami disambut petugas dengan ramah. Petugas ini tidak mengenakan seragam seperti pelayan lainnya. Ia menawarkan ikan bakar, tapi ukurannya besar yang tidak mungkin dihabiskan oleh dua orang imut ini.
Di depan pintu langsung terlihat lemari kaca yang berisi makanan. Ada berbagai kue khas Manado, seperti balapis, panada dan klappertaart. Lemari kaca berikutnya berisi macam-macam masakan yang di letakkan dalam wadah alumunium. Nantinya, masakan tersebut disendok ke dalam piring untuk disajikan di meja pemesan. Nah di lemari kedua ini ada cakalang fufu, cakalang pampis, ayam sereh, ayam tinorangsak. Baca menu ayam tinorangsak jadi teringat miss piggy. Jaman SMP dulu di Manado, pengalaman pertama tahu tinorangsak. Masakan itu haram karena babi. Ingatan itu masih ada sampai sekarang. Di lemari yang terakhir, tampak berbagai sayur, ada bunga pepaya dan kangkung.
Diskusi cukup lama dengan Dewi, apalagi dia sempat beberapa kali ganti menu. Akhirnya dipilih Kuah Asam Kerapu dan Tumis Bunga Pepaya. Pelengkapnya es brenebon untuk saya dan klappertaart untuk Dewi.
Es brenebon dan klappertart yang mula-mula datang. Es brenebon ini dengan permintaan khusus, tanpa campuran alpokat dan duren, seperti yang tersebut di menu. Di sajikan dalam gelas kaca, kacang merahnya tertutup serutan es yang ditambahi susu cokelat. Ketika akhirnya saya berhasil mengeruk hingga ke bawah, ternyata jumlah kacang merahnya tidak seperti yang dibayangkan. Kurang generous lah, walau cukup membuat segar di siang hari yang amat sangat terik itu. Saya tidak sempat menanyakan komentar Dewi atas klappertaartnya, tapi yang terlihat adonannya tidak selembut klappertaart yang biasa saya makan. Hingga es brenebon dan klappertaart tandas, makanan inti belum juga datang. Mari tunggu sambil tengok kanan kiri.
Dinding ruangan dipenuhi keramik warna biru dan putih, tampak sekali upaya untuk membuat ruangan menjadi elegan. Sofa empuk yang menyandar ke dinding juga dibalut kain berwarna biru, mendampingi kursi-kursi kayu yang berwarna keemasan. Meja marmer abu-abu terang dengan kaki besi yang tampak kokoh. Ketika saya datang, hampir seluruh meja restoran terisi. Para tamu makan sambil ngobrol sehingga cukup bising, terlebih karena jarak antar meja sangat dekat. Percakapan di meja sebelah bisa terdengar jelas. Tempat ini sebenarnya cukup nyaman. Hal ini terasa ketika sebagian besar pengunjung sudah meninggalkan tempat.
Dapur model terbuka. Pengunjung yang berdiri bisa dengan jelas mengamati kegiatan di dapur. Kalau dari tempat duduk, saya hanya melihat petugas dapur sedang berbagi informasi.

Makanan utama akhirnya datang. Aroma segar menyebar dari Kuah Asam Kerapu yang disajikan dalam mangkuk putih besar. Tumis bunga pepaya datang kemudian diikuti nasi putih dalam mangkuk kecil. Kuah asam kerapu ini benar-benar patut untuk ditunggu atau enggak rugi nunggu lama deh. Irisan daun bawang, tomat, cabe rawit, sereh dan kemangi tampak jelas menyertai potongan ikan. Kombinasi sereh dan daun kemangi menambah kesan segar pada masakan. Bumbu yang banyak itu tidak saling mendominasi, semua terasa pas. Bunga pepaya yang ditumis dengan daun jeruk dan daun bawang juga menambah selera makan. Rasa pahit bunga pepaya tidak terlalu kentara. Apalagi? Nasi putih? Ternyata nasi putih yang disajikan dalam mangkuk kecil itu tidak bisa kami habiskan. Kuah asam dan tumis bunga pepaya lebih banyak dimakan tanpa nasi dan itu yang membuat perut kenyang.
Cukup lama kami makan sambil ngobrol di situ, jam makan siang molor hingga jam 15:30. Ketika keluar restoran, kami langsung disambut macetnya Jakarta di saat jam pulang kantor.

Tuesday, September 22, 2015

ADIKKU, MILAN

Tetiba ingat Tante Margo yang dulu tinggal di sebelah rumah. Kala itu, hampir setiap hari saya main di rumahnya, bahkan sampai tidur siang pun di rumahnya. Menjelang tidur, Tante Margo akan bercerita menggunakan gambar kartun tanpa kata-kata yang ada di majalah Intisari. Hebatnya, gambar yang sama bisa jadi cerita yang berbeda di lain hari. Mungkin ini salah satu yang memupuk saya gemar bercerita :)

Cerpen berikut berjudul Adiiku, Milan yang gemar pergi ke rumah tetangga sebelah. Siapa nama tetangga itu? ;) Baca cerita lengkapnya di

Majalah Bobo
No. 14 tahun XLIII
09 Juli 2015

Monday, September 21, 2015

CILOK KEPITING

Sudah lama ingin bikin cilok, tapi seperti juga cireng, sohibnya, saya belum temukan resep yang benar-benar jelas perbandingan bahan-bahannya. Kali ini pun, resep yang digunakan juga pakai kata 'secukupnya,' kata yang saya benci di setiap resep. Maklum, saya bukan pemasak handal.


Jadi hari ini dibuatlah cilok dengan bahan-bahan yang ada, termasuk semangkok sup kepiting sisa kemarin. :)

Bahan-bahan:
30 gram sagu
30 gram terigu
1 tangkai daun bawang, diiris halus
1/4 sdt garam
1/4 sdt merica
1 bawang putih
1 sdt minyak
30 ml kaldu (saya gunakan kuah sop kepiting)
10 gr daging kepiting (dari sop kepiting)
2 sdm bumbu pecal yang dicampur dengan air



Cara membuat:
Didihkan kaldu, minyak dan bawang putih.
Campur sagu, terigu, daun bawang, garam, merica dan daging kepiting.
Tuang air kaldu ke dalam campuran tepung sedikit demi sedikit, sambil diaduk hingga tidak lengket di tangan.
Bulatkan adonan tepung.
Didihkan air dan masukkan bulatan tadi hingga mengambang.
Angkat dan sajikan dengan kuah pecel.