Wednesday, November 12, 2014

Neilson Hays Library: Alternatif Lain di Bangkok

Terletak dalam area yang sama dengan Neilson Hays Library, garden cafe ini mudah ditemukan.  Bangunan berwarna putih dengan kaca jendela berukuran besar dan langit-langit yang tinggi. Selintas seperti menjejakkan kaki ke jaman dulu. Bangunan yang tidak besar ini tampak keren dan sekaligus membuat tamu merasa nyaman. Ketika saya datang, beberapa tamu sedang asik membaca buku.

Pilihan makanan tidak terlalu banyak, begitu juga dengan minuman. Mereka tidak menyediakan nasi uduk, tapi mempunyai kopi dan jus jeruk yang cukup untuk menghilangkan haus setelah dari perpustakaan. Ada cakes dan pastry juga.
Pelayannya ramah dan sopan.

Colette & Lola: Interior Unik



Pertama kali masuk ke toko ini, Colette & Lola di jalan Senopati, Jakarta, saya lebih tertarik pada hiasan yang memenuhi ruangan. Pegangan pintu kaca yang berbentuk kue, papan tulis dengan berbagai bentuk huruf, peralatan masak dengan warna-warna menarik, kotak-kotak unik di lemari kaca. Ah, semua itu hampir mengalihkan perhatian saya dari cakes.





Pilihan cake banyak dan lumayan sering berganti: hazelnut, kopi, cokelat pahit. Bentuk cake-nya pun unik-unik, ada yang berbentuk lego, minion dan panda. Colette & Lola juga menyediakan maccaroon dan cupcakes. Pelayannya cukup informatif, menjelaskan rasa dan bahan-bahan tambahan pada cake. 

 











Kursi dan meja disediakan untuk tamu, tapi dalam jumlah terbatas. Sebaiknya, rencanakan beli cake untuk dibawa, bukan makan di tempat. Cake yang dibawa akan ditempatkan dalam kotak cantik, dilengkapi dengan bahan pendingin sehingga cake tidak mudah lumer.

Thursday, October 30, 2014

MANADO, SETELAH BERPULUH-PULUH TAHUN SILAM



Waktu sudah lewat jam empat sore ketika kami, saya dan Iyes ke luar dari bandara Sam Ratulangi. Ini kali pertama saya ke Manado setelah meninggalkan kota ini lebih dari 25 tahun silam. Bandara sudah banyak berubah, eh, tentu saja. Anjungan kedatangan luas dan tampak bersih. Tidak bisa berlama-lama mengamati interior bandara karena Rafia dan Amay, dua teman jaman sekolah di SMPN 1 Manado dulu, sudah melambai-lambaikan tangan di dekat pagar penjemput. Keduanya tidak berubah, senyum lebar dan ramah, meskipun menjemput kami ini pastinya ganggu jadwal kerja mereka.
Kita berjalan menuju tempat parkir, saya sempatkan melihat bangunan bandara bagian luar. Di tembok bagian atas, tertulis Sitou Timou Tumou Tou. Ini bahasa Minahasa yang jauh berbeda dari bahasa Manado. Bahasa Manado yang dulu sedikit saya kuasai waktu di SMPN1 saja lupa, apalagi bahasa Minahasa, yang sering terdengar seperti gesekan daun kelapa. Jadi, apa artinya? Let’s check om google. Katanya, itu cara pandang orang Minahasa terhadap dirinya dan orang lain. Well, daleeemmm.
Baru beberapa menit di dalam mobil, Rafia sudah menantang dengan pertanyaan yang menggugah organ pencernaan. “Ngoni dua lapar, toh?” Saya dan Iyes sempat saling pandang. Mau bilang 'tidak lapar' karena beberapa menit sebelum landing, kami baru menamatkan roti isi jatah snack dari Garuda. Konsekuensinya, kami kehilangan kesempatan pertama kuliner di Manado. Hmm, berat! Akhirnya, Amay menengahi, “Makan, jo!” Amay dan Rafia memang penuh pengertian. Hehehe.
Tempat makan pertama hari itu di Pondok Teterusan yang terletak dekat bandara, luar kota Manado, dan berseberangan dengan hutan. Memiliki tempat parkir yang luas, rumah makan ini juga punya banyak kolam yang di atasnya ada saung tempat makan. Kami menuju dapur dan memesan empat nasi, ikan mujaer, kangkung dan air jeruk.

Tidak lama, pelayan membawakan pesanan ke saung tempat kami menunggu. Ukuran ikan termasuk besar untuk dimakan sendiri. Daging ikannya terasa manis, mungkin karena baru ditangkap. Bumbu pendampingnya lengkap sehingga tidak tercium bau anyir. Rica-rica ditaburkan di atas ikan. Biji cabe rawit banyak yang masih terlihat utuh dan menggoda untuk dicolek. Telunjuk terulur mencolek rica-rica seksi itu dan sekejap berpindah tempat ke lidah. Ups, pedes bener dan harum. Pasti minyak kelapa bikinan sendiri yang membuat rica-rica ini jadi juara. Di piring lain, tersaji daun kangkung dengan warna hijau segar. Saya menarik satu tangkai dan membentangkan daunnya. Hah! Ukurannya masih sama besar seperti dulu. Memang ukuran daun kangkung di sini jumbo, tapi empuk. Batang kangkung masih bunyi kres-kres ketika digigit.

Menyesal, ukuran perut tidak sebanding dengan makanan yang dihadapi. Saya dan Iyes gagal menghabiskan nasi, tapi tidak begitu dengan ikan mujaer dan kangkung. Mereka tandas. Pasti ini gara-gara bayangan pertanyaan orang pesimis ‘kapan lagi bisa mampir di sini?’ Bagaimana dengan rica-rica? Hanya seperlima porsi yang bisa kami habiskan. Daya tahan lidah kami terbatas. Saya sempat melihat piring ikan Rafia dan Amay. Kosong. Mereka menghabiskan semua rica-rica. Hebat beneeeer.
Malam hari di hotel Sahid Kawanua, saya dan Iyes bertugas jaga di toilet. Perut kami berontak dan ini harus diselesaikan malam itu pula karena jadwal esok padat.
Pagi hari, setelah badai malam lewat, isi komunikasi saya dan Iyes: enggak nyesel makan ikan mujaer rica-rica. Dan enggak bakal nolak kalau ada yang ajak lagi. 

Monday, October 6, 2014

IKHLASKAN

Rasa kehilangan tidak pernah mudah dilewati, bergayut terus hingga pipi basah. Seperti rasa kehilangan yang ada di awal tahun 2014 ini. Alhamdulillah ada proses pembelajaran dari kejadian ini. Rasa itu berangsur tertutupi dengan 'kutipan' yang punya arti dalam.
Setelah pertimbangan ini-itu, akhirnya pemicu kisah dihilangkan. Bagian yang bikin nitik biar jadi milik pribadi. Kisah lanjutan dimuat pada rubrik Gado-gado, Femina.

Gado-gado, Femina No 38/XLII, 27 Sep -3 Okt 2014

Wednesday, August 27, 2014

Sama-sama Psikolog

Hari itu saya menunggu pembagian buku rapor anak saya. Saya duduk di dekat meja guru dan kebetulan bisa mendengar dengan jelas obrolan antara guru dan orang tua murid lain.
“Ibu perlu mendiskusikan perilaku putra Ibu ke psikolog. Mau saya aturkan jadwal bertemu dengan psikolog sekolah, Bu?” ujar ibu guru kepada orang tua salah satu murid.

Orang tua murid itu memegang telinganya sendiri, tampak jengah. Ia kemudian balik bertanya, “Siapa nama psikolognya, Bu?”

Ibu guru menyebut nama psikolog yang dimaksud, lengkap dengan gelarnya.
Orang tua murid tadi mendadak tersenyum lebar seraya berkata, “Oh, itu, sih, adik kelas saya waktu di fakultas psikologi. Dia pasti kenal saya.”

Erna Fitrini, Jakarta
http://www.readersdigest.co.id/humor/humoria/samasama.psikolog/007/001/665

Wednesday, July 30, 2014

KEMBANG API




            Andriani memandang heran ke arah orang-orang yang bergegas masuk ke dalam toko pakaian.  Beberapa orang bahkan mengantri di depan pintu karena toko penuh sesak.  “Ada apa sih?”  Andriani menjawil lengan Had yang berdiri di sampingnya.
            “Yah, ada bajulah…,” jawab Had asal.
            “Kok sampai ramai begitu?”
            Tiba-tiba Had menepuk jidatnya, sambil tergelak.  “Oh iya. Ini liburan pertamamu di sini.  Jadi kamu belum tahu kebiasaan penghuni langit ini.”
            “Emang, apa?”
            Bukannya menjawab pertanyaan, Had malah bertanya balik.  “Eh, kamu belum punya kan?  Beli sekarang saja.”  Had menarik Andriani, masuk ke dalam antrian.
            Andriani memperhatikan orang-orang yang keluar dari dalam toko.  Setiap orang membawa satu kotak plastik besar yang bertuliskan Jaketair di sisi kotak.  “Apa isi kotak sebesar itu?” tanya Andriani. Selanjutnya baca di ...
Judul: Kembang Api
Penulis: Erna Fitrini
Majalah:BOBO 13 XLII 3 Juli 2014

Tuesday, July 8, 2014

SEMPURNA




            “Aruuum. Tunggu!”
        Arum menoleh ke belakang dan melihat Dhani berlari. Tangan kanan Dhani memegang kacamatanya agar tidak jatuh. Rambut keritingnya yang panjang melompat-lompat di belakang kepala. “Apa?” tanya Arum setelah Dhani di dekatnya.
            Pipi Dhani yang bulat bersemu merah. “Ntar sore latihan di rumahmu lagi ya?”
            Hampir dua minggu, Dhani, Arum dan Mawar latihan menari untuk acara perpisahan kakak kelas di rumah Arum. Tarian modern yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan musik dan kostum tari juga mereka buat sendiri.
            “Eh!” seru Arum kaget. “Enggak bisa. Pokoknya mulai hari ini enggak bisa.”
            “Kenapa? Kan enak di situ. Semua peralatan tari juga ada di situ.”
            “Enggak bisa,” jawab Arum cepat. “Udah ya, aku musti buru-buru pulang, nih.” Arum berlari meninggalkan Dhani.
            Mulut Dhani terbuka. Matanya membulat. Dhani bingung melihat Arum pergi. “Lho, terus latihan di mana?” tanya Dhani pelan. Pertanyaan yang ditujukan ke dirinya sendiri. Selanjutnya baca di ...
Judul: Sempurna
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 11 XLII 19 Juni 2014