Friday, December 21, 2012

Squirrel and Friends: The Louder the Faster

Squirrel needed to cut a branch but he didn't have any ax. Bee got a wonderful idea to help Squirrel. What did Bee do?

Title: Squirrel and Friends: The Louder, the Faster
Author: Uncu Nana
 Magazine: C'nS Junior Edition 11 Volume X December 2012

Thursday, December 20, 2012

Winter in Hokkaido dan 9 Catatan Perjalanan Lainnya


Kali ini Minmie berada di antara ribuan orang yang memadati Taman Odori, Hokkaido, Jepang. Taman ini merupakan salah satu tempat festival musim dingin terkenal, Sapporo Yuki Matsuri. Minmie dan pengunjung lainnya bisa menyaksikan ratusan patung salju dan pahatan es, disinari indahnya cahaya lampu.

Ada 9 kota lainnya yang dikunjungi Minmie. Kota apa saja itu?

Judul: Winter in Hokkaido dan 9 Catatan Perjalanan Lainnya
Penulis: Erna Fitrini, dkk
Penerbit: DAR! MIZAN
ISBN: 978-602-242-116-0

Berminat? Bisa pesan di sini atau beli di toko buku lainnya.

Tuesday, December 18, 2012

Summer in London dan 8 Catatan Perjalanan Lainnya




Musim panas kali ini, Minmie mengunjungi sepupunya, John dan Daisy yang tinggal di London. Mereka bermaksud pergi ke London Zoo. Di sana Minmie mengalami kejadian seru. Apakah kebun binatang itu sama seperti kebun binatang di Indonesia?

Minmie juga mengunjungi delapan kota lainnya. kejadian seru apa saja yang Minmie alami di sana?

Judul: Summer in London dan 8 Catatan Perjalanan Lainnya 
Penulis: Erna Fitrini, dkk.
Penerbit: DAR! MIZAN
 ISBN: 978-602-242-117-7

Berminat? Bisa pesan di sini atau beli di toko buku lainnya.

Friday, November 23, 2012

Squirrel and Friends: What Funny Taste!


Kitty wanted to try others' food. Would she like the food?

Title: Squirrel and Friends: What Funny Taste!
Author: Uncu Nana
Magazine: C'nS Junior Edition 10 Volume X November 2012

Monday, November 5, 2012

TIPS: Cerita dengan Pesan Moral


Cerita yang baik adalah cerita yang sarat dengan pesan moral. Ah, kata siapa? Cerita yang baik itu cerita yang seru dan menyenangkan. Syukur-syukur cerita itu bisa mengajak kita berbuat kebaikan.
Bagaimana dengan cerita di bawah ini?


HANYA MINTA SATU SAJA

            “Halo, Bapak Irawan Hakim Siregar, ada?” tanya Anin.  Tangan kiri Anin memegang gagang telepon dan tangan kanannya menunjuk satu nama di buku telepon.
            “Ini siapa?” tanya suara laki-laki dari seberang.  Di latar belakang, terdengar bunyi berbagai macam mesin, seperti suasana di pabrik.  Ramai sekali.
            “Anin.”
            “Aming?  Yang pemain film itu?  Weleh-weleh, kejutan besar.  Ada apa, nih?” tanya laki-laki itu bersemangat.
            “Ini Anin.  Anin.”  Anin mengulang namanya lebih keras.
            “Oh, bukan Aming.  Iya…iya, saya sudah dengar, tidak perlu teriak, Amin.”
            Semula Anin ingin membetulkan namanya, tetapi dia berubah pikiran.  Ah, biarlah.  Anin meneruskan, “Bapak Irawan Hakim Siregar, ada?”
            “Apa?”  
Bunyi mesin-mesin itu terus saja terdengar jelas.  Suaranya menderu-deru.  Anin membayangkan itu bunyi mesin penggiling biji-bijian seperti yang pernah dilihatnya di televisi.
            Anin mengulang pertanyaan dengan suara keras.  Dalam hati dia berdoa, semoga Bapak ini tidak marah karena mengira Anin tidak sopan.
            “Iya…iya.  Ini saya.  Dari mana kamu tahu nomor telepon ini?” tanya Pak Irawan.
            Anin menjelaskan bahwa sepulang sekolah dia menemukan dompet di pinggir selokan.  Di dalamnya ada KTP, SIM dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).  Berdasarkan nama di KTP itu, Anin menemukan nomor telepon Bapak Irawan di buku petunjuk telepon.
            “Benar itu.  Iya…iya.  Dompet saya hilang minggu lalu.  Di mana rumah Amin?”
            Setelah beberapa kali mengulang dengan suara keras, Anin berhasil memberitahu Pak Irawan alamat rumahnya.
            “Iya…iya.  Sebentar saya datang,” janji Pak Irawan.
            Dua jam kemudian, ketika Anin sedang menyiram tanaman, Pak Irawan datang dengan mobil hitamnya yang mewah.  Tiba-tiba Anin teringat pesan Farid, teman sekolahnya, “Jangan lupa minta hadiah dari pemilik dompet ini.” 
Setelah berkenalan sebentar, Anin menyerahkan dompet hitam milik Pak Irawan.  “Ini dompetnya, Pak.  Semua ada di sini.”
            Pak Irawan tersenyum lebar ketika melihat dompetnya.  “Iya…iya.  Ini benar dompet saya.”  Setelah memeriksa isinya, KTP, SIM dan STNK, Pak Irawan merangkul bahu Anin erat.  “Terima kasih, Amin.”
            “Nama saya Anin, Pak.  Bukan Amin,” kata Anin sopan.
            “Oh, Anin?  Baik… baik.  Sekarang saya mau kasih Anin hadiah.  Anin mau hadiah apa?”  Pak Irawan menunggu jawaban Anin.
            Walau pesan Farid terus terngiang-ngiang, Anin menjawab sopan, “Ah, enggak.” 
Ketika Anin menjawab, sebuah bajaj melintas di depan rumah Anin.  Suaranya bising sekali.  Pak Irawan saja sampai menutup kuping dengan tangannya.  
“Mangga?  Kamu mau mangga berapa?” tanya Pak Irawan.  “Saya memang kerja di pabrik pengolahan buah-buahan, untuk dijadikan minuman dan selai.  Di sana ada bermacam-macam buah.  Segar-segar lagi.”
Kali ini Anin kaget.  “Tidak, Pak.  Tidak usah,” jawab Anin dengan suara agak keras.
“Tetapi saya ingin sekali memberimu hadiah.  Saya senang dompet dan kartu-kartu ini kembali.  Iya…iya.  Coba bilang, kamu mau apa?”  Pak Irawan tersenyum ramah melihat Anin.
            Anin ragu antara bilang atau tidak, tetapi pesan Farid terngiang-ngiang lagi.  Akhirnya Anin memberanikan diri.  “Benar?  Anin boleh minta hadiah?” 
            “Ayolah, sebut saja.  Saya akan senang sekali memberinya…,” bujuk Pak Irawan.
            “Boleh minta apa saja?”  Sebenarnya ada satu benda yang sudah lama Anin inginkan.  Benda yang sekarang digenggam Pak Irawan.
            “Iya…iya.”
            “Anin mau Blackberry, Pak,” jawab Anin sambil memandang Blackberry yang ada di genggaman tangan kiri Pak Irawan.
            Pak Irawan tersenyum.  “Iya…iya.  Sekarang memang banyak yang suka.  Kamu mau berapa?”
            Waduh, bapak ini baik hati sekali.  “Hanya minta satu saja, Pak.”
            Pak Irawan berpamitan dan berjanji akan kembali esok sore.
            ***
            Ketika bel rumah berbunyi, Anin langsung berlari ke luar rumah.  Dia yakin Pak Irawan akan datang membawa hadiah untuknya.  Dan benar saja.  Pak Irawan berdiri di depan pagar, menjinjing satu tas kertas kecil.
            “Hai, Anin,” sapa Pak Irawan ramah.
            Anin membukakan pintu pagar dan menyalami Pak Irawan.
            “Ini yang Anin minta.  Blackberry.”  Pak Irawan mengangkat tas kertasnya tinggi. 
            “Terima kasih, Pak.”  Ingin rasanya Anin melompat dan berteriak senang karena mendapat Blackberry. 
            Pak Irawan menyerahkan tas kertas itu dan berpamitan.
            Setelah mobil Pak Irawan berbelok di ujung jalan, Anin menengok isi tas kertas itu.  Tampak satu kotak kue plastik berwarna biru.   Hmm, kenapa Blackberry ditaruh di kotak kue?  Anin mengangkat kotak kue tersebut.  Kok dingin, seperti baru ke luar dari kulkas?  Sambil berjalan ke teras, Anin membuka kotak kue dengan hati-hati.  Tutupnya rapat sekali, sehingga Anin harus mengerahkan banyak tenaga menarik tutupnya.  Tadaaaa…  Sekejap, Anin terbelalak.  Tetapi tak lama kemudian, Anin tertawa.  Di dalam kotak kue tampak sebuah blackberry segar sedang berguling-guling. 
Anin mengharapkan dapat Blackberry seperti yang dimiliki oleh teman-temannya, tetapi yang dia terima dari Pak Irawan adalah buah blackbery segar.  “Hahaha, beginilah, kalau mengharapkan hadiah…” 

(Antologi: Detektif Sok Tau, 2010, Human Books)

Sunday, November 4, 2012

Suatu Pencarian



Sekarang giliranmu, Pi.” Mirza memberikan dadu kepada temannya.  Sejak dari
pulang sekolah, Mirza dan tiga temannya asik bermain monopoli.
            Tiba-tiba terdengar suara ramai di muka rumah.  Mirza langsung meninggalkan teman-teman dan berlari ke teras.  Pak Zainul, ayah Mirza sedang membersihkan linggis di teras.  “Ada apa, Yah?” 
            “Entahlah....”  Pak Zainul meletakkan linggis.
            Penduduk desa berlari ke arah rawa yang berada di dekat gedung sekolah.  Mereka membawa golok, bambu, linggis dan sekop. 
            “Hei, ada apa?” tanya Pak Zainul. 
            Salah satu dari mereka menoleh sebentar.  Dia mengatakan sesuatu, tapi tidak jelas terdengar karena ramainya suara orang-orang berteriak.  Yang terdengar jelas hanya kata, “Rawa!”
            Dengan cepat Ayah mengenakan sepatu bot karet dan mengambil linggis.
            “Yah, aku ikut,” minta Mirza.
            “Tidak.  Kamu di rumah saja.  Teruslah bermain,” kata Ayah sebelum berlari menyusul penduduk desa lainnya.
            Pak Zainul dan Mirza tidak banyak mengetahui tentang rawa itu.  Mereka baru sebulan tinggal di desa ini.  Menurut cerita yang beredar, rawa itu sangat menyeramkan.  Tidak seorang pun berani masuk ke dalamnya.  Ada seekor buaya besar yang hidup di tengah rawa.  Seorang anak yang sedang bermain di pinggir rawa pernah menjadi korban buaya itu. 
Setiap jam istirahat guru selalu mengingatkan murid-murid untuk tidak bermain di dekat rawa.  Orang tua pun juga selalu mengingatkan anak-anak mereka untuk menjauhi rawa.  Tetapi, bagaimana mungkin?  Lokasi rawa itu dekat sekali dengan gedung sekolah.  Dan di pinggir rawa banyak tumbuhan benang kusut yang buahnya manis sekali.  Di rawa itu juga banyak hidup kerang warna hitam yang bentuk dan ukurannya seperti jari kelingking.  Kalau direbus, rasa kerang itu seperti cumi-cumi.  Enak sekali.  Nah, sebelum pulang ke rumah, anak-anak sering mengumpulkan buah benang kusut dan kerang. 
                                                                     ***
Sudah banyak orang yang berkumpul di pinggir rawa.  Mereka menggunakan linggis dan bambu untuk memukul-mukul tanah pinggir rawa.  Tak seorang pun berani masuk ke dalam rawa.  Mereka juga meneriakkan sebuah nama secara beramai-ramai, sehingga nama itu tidak jelas terdengar.
Pak Heru, ketua kelompok dibujuk untuk melakukan pencarian ke tengah rawa.  Muka Pak Heru memerah.  Keringat mengucur deras di dahinya.  Penduduk terus saja membujuk Pak Heru.  Akhirnya Pak Heru tidak bisa mengelak lagi.  Dia memutuskan untuk masuk ke dalam rawa.  Dengan langkah goyah, Pak Heru masuk ke dalam rawa.  Dua orang mengikutinya dari belakang.  Sedangkan yang lain tetap berdiri di pinggir rawa dan mulai membaca doa agar Pak Heru dan lain-lain selamat.
Setelah tiga langkah, Pak Heru tiba-tiba berhenti.  Dia mengangkat tanan kanannya dan berkata, “Berhenti.  Kita kembali ke pinggir rawa.”
“Ada apa?  Ada apa?” tanya Pak Edi dari pinggir rawa.
“Kita lanjutkan pencarian besok,” kata Pak Heru.  “Eee... hari mulai gelap.”  Pak Heru menunduk.  Keringat membasahi bajunya.
“Tapi ini baru jam 2.  Masih terang!” protes Pak Zaldi.
“Eee, anu.  Firasat saya bilang, kita harus hentikan sekarang.  Besok dilanjutkan,” kata Pak Heru.  “Jam 6 pagi, kita kumpul di sini.  Bawa alat.”
Dari jauh Pak Zainul memperhatikan raut muka Pak Heru.  Tampak jelas kalau Pak Heru takut.  “Hmm, mungkin benar.  Di rawa ini ada buaya yang besar,” pikir Pak Zainul.
Penduduk desa berjalan menuju rumah masing-masing.  Pak Zainul dan Pak Zaldi berjalan bersisian.
“Siapa yang dicari?” tanya Pak Zainul.
“Gak tahu.”  Pak Zaldi mengangkat bahu.   “Tadi saya hanya ikut saja.”
Pak Zainul mencolek punggung Pak Edi yang berjalan di depannya.  “Siapa yang dicari, Pak?”
Pak Edi menoleh.  “Upi.  Sejak tadi belum kembali ke rumah.”
“Upi, anaknya Bu Tyas?” tanya Pak Zainul.
Pak Edi mengangguk
“Dia ada di rumah saya.  Main dengan Mirza,” kata Pak Zainul tersenyum. 
“Haa?”  Penduduk desa kaget.
“Kita mati-matian mencarinya.  Ternyata dia asik main,” kata Pak Heru.
“Itulah kalau anak-anak tidak pamit pada orang tua.  Orang sedesa jadi ribut begini...,” keluh Pak Zaldi.

(Bobo 33/XXXIX 24 Nov 2011)

Saturday, November 3, 2012

Minmie: Membuat Donat (Minmie: Cooking Doughnuts)


Minmie ingin membuat donat, tetapi menurut Sarah membuat donat itu susah. Minmie tetap pada keinginannya. Susahkah membuat donat?

Judul: Minmie: Membuat Donat (Minmie: Cooking Doughnuts)
Penulis: Erna Fitrini
Ilustrator: 1304r
Editor: Moemoe
Penerbit: DAR! MIZAN
ISBN: 978-979-066-952-9
Harga: Rp 19.000,-

Berminat? Bisa pesan di sini atau beli di toko buku lainnya.

Tuesday, October 30, 2012

Om Siswo


            “Enak juga jalan kaki kalau adem seperti ini,” kata Sashi.  Sashi dan Nasha berjalan kaki sepulang dari sekolah.

            Nasha mengangguk setuju.  “Apalagi kalau sembari makan es krim.  Sedaaaapp.”  Nasha tersenyum membayangkan dirinya berjalan kaki sambil makan es krim.

            “Hiiiii, gak ah.  Malah kotor kena debu.”  Sashi tidak setuju.

            Di ujung jalan, mereka melihat seseorang sedang mengikat bendera kuning di tiang listrik. 

            “Siapa yang meninggal ya?” bisik Nasha.  Dia memindahkan tasnya dari pundak sebelah kiri ke pundak sebelah kanan.

            “Itu rumahnya Om Siswo,” kata Sashi menjelaskan.  “Om Siswo kali yang meninggal.  Dia sudah lama sakit gula.”  Sashi kenal baik dengan keluarga om Siswo.  Rumah Sashi hanya berjarak dua rumah dari rumah om Siswo.

            Ketika melewati depan rumah om Siswo, Nasha dan Sashi melihat beberapa orang yang sedang memindahkan kursi-kursi ke luar rumah.  Pintu depan rumah terbuka lebar.  Di ruang tamu terlihat satu buah tempat tidur.

            “Nash, nanti sore jadi mau mengerjakan tugas poster?” tanya Sashi sambil membuka pagar rumahnya.

            “Gak bisa, Shi.  Hari ini aku ada les lukis.  Besok aja, deh.  Kan masih ada waktu tiga hari lagi.”

            “Oke deh.  Sampai besok ya?  Berangkat bareng kan?” tanya Sashi.

            Nasha mengangguk.  Nasha masih harus menempuh lima puluh langkah untuk sampai ke rumah.

                                                                      ***

            “Bu, om Siswo meninggal.  Sakit gula,” kata Nasha.

“Kapan meninggalnya?  Kok Ibu belum dengar?” tanya Ibu.

            “Enggak tau, Bu.  Tadi waktu lewat depan rumahnya, kulihat ada bendera kuning.  Banyak orang yang lagi angkat kursi-kursi…”  Nasha memasukan suapan terakhir ke mulut. 

            “Nanti kita pergi sama-sama saja, Sha.  Ibu melayat sebentar, setelah itu baru Ibu mengantar kamu ke Sanggar Kuas.  Mau kan?”

            “Iya, Bu.”  Nasha berdiri dan membawa piring-piring kotor ke tempat cuci piring. 

                                                                    ***

            Sudah banyak orang yang datang di rumah om Siswo.  Sebagian besar bukan tetangga sekitar lingkungan perumahan Nasha.  “Mungkin saudara om Siswo,” pikir Nasha.

            Ibu langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari tante Siswo.  Tante Siswo ternyata sedang berbicara dengan sekelompok anak muda.  Ibu berdiri beberapa langkah di belakang tante Siswo.  Ibu menunggu tante Siswo selesai berbicara.  Nasha berdiri di samping ibu.

            Tiba-tiba dari kamar sebelah kanan, keluar om Siswo.  Dengan cepat Nasha menarik tangan ibu dan menunjuk ke arah kanan.

            “Jadi siapa yang meninggal?” bisik Ibu.

            Nasha menggeleng.  Matanya terus menatap punggung om Siswo yang berjalan menuju belakang rumah.

            “Eh, ada Bu Ramasdin dan Nasha.  Maaf, saya tadi tidak lihat,” sapa tante Siswo.

            Ibu tersenyum.  “Saya lihat bendera kuning, makanya saya mampir.  Siapa yang meninggal?” tanya Ibu sambil menjabat tangan tante Siswo.

            “Bimo, sepupu saya yang baru datang dari Surabaya.  Dia mengalami kecelakaan di jalan tol,” tante Siswo menjelaskan.

            “Oh..., kami turut berduka cita.  Kapan akan dimakamkan?”

            “Kami masih menunggu orang tuanya.  Mereka sedang dalam perjalanan menuju Jakarta.”

            Nasha tertunduk lesu.  Dia menyesal telah salah menyampaikan berita dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan berita.

Bobo No. 37 tahun XXXVIII 23 Desember 2010

Monday, October 29, 2012

Ini Cerita Horor



“Kak,  ibu kapan pulang?” tanya Andriana.  Ia melirik jam dinding.  Baru jam 6:10 menjelang malam, tetapi langit sudah gelap sekali.  Sebentar lagi, pasti hujan lebat. 
“Gak tau,” jawab Ari pendek, tanpa mengangkat muka dari komik yang sedang dibacanya.
Sudah lebih dari tiga jam ibu pergi ke rumah Tante Rahimi.  Andriana dan Ari tinggal berdua saja di dalam rumah. 
            Akhirnya Andriana duduk di samping Ari.  “Kok ibu lama sekali?”
            “Iya,” jawab Ari.  Dua halaman lagi Ari selesai membaca komik.  Ari tidak suka berhenti membaca ditengah-tengah cerita.
            Andriana mengambil gagang telepon dan menghubungi nomor telepon Ibu.  Tetapi tidak ada nada sambung.  Andriana meletakkan gagang telepon ke tempat semula dan kembali duduk di dekat jendela. 
            “Adek, telepon Ibu?” tanya Ari sambil meletakkan komik berjudul Monster Pavo di atas meja. 
            Andriana mengangguk.  “Tapi gak bisa...”
            “Hmm, tadi Ibu bilang cuma pergi sebentar...,” gumam Ari.  Ari terhenti ketika kilat tiba-tiba menyambar.  Cahaya yang menyilaukan mata masuk melalui jendela yang terbuka.  Andriana menjerit.  Kepalanya disembunyikan di bawah bantal.  Tidak lama kemudian terdengar suara guruh yang menggelegar.  Kali ini Andriana dan Ari menjerit bersamaan. 
            Air hujan turun dengan lebat.  Angin menghempas-hempaskan daun jendela dan tirai.  Pelan-pelan, Ari mendekati jendela dan menutupnya.  Tangan dan lengan bajunya basah terkena air hujan.  “Kak Ari mau telpon Ibu.”
            “Ikuuuut,” teriak Andriana sambil berpegangan di punggung Ari.
            Ari mengangkat gagang telepon, tetapi tidak ada nada sama sekali.  “Gimana nih? Sekarang telpon kita yang mati.”
            Andriana tidak komentar.  Ia terus memegangi punggung kakaknya.
            “Tirainya sudah ditutup.  Jadi kilat tidak akan masuk ke sini,” kata Ari sambil mencoba melepaskan Andriana dari punggungnya.  Tetapi tidak berhasil.  Andriana memegang punggung Ari dengan erat. 
            Tiba-tiba terdengar lagi bunyi guruh yang menggelegar.  Rumah terasa bergetar.  Dan, listrik mati!  Kali ini, Ari memeluk Andriana.  Ari pun takut.  Matanya terpejam erat.
            Setelah beberapa saat, suasana kembali tenang.  Hanya terdengar bunyi rintik-rintik air hujan di teras.
            “Pakai lilin, Kak,” kata Andriana.
            “Adek yang ambil, ya?” bujuk Ari sambil mendorong pelan Andriana ke arah dapur.
            “Gak.  Adek takut.  Gelap.  Kakak aja...”
            Ari menggeleng.  “Kita di sini aja.  Gak usah pakai lilin.”  Ari juga tidak berani mengambil lilin yang disimpan di lemari dapur.  Pasti di dapur juga gelap.
            “Krreeekk tak.  BUM!”  Terdengar suara dari luar rumah.
            Andriana terlompat, kaget.  “Bunyi apa tuh?”
            Ari tidak menjawab.  Walau bulu kuduknya berdiri, Ari mendekati pintu.  Ia ingin tahu asal suara tadi.    Tetapi angin terlebih dahulu menghentakkan pintu yang tidak tertutup rapat.  Sekarang pintu terbuka lebar.  Cahaya kilat yang datang tiba-tiba menampilkan bayangan gelap di depan pintu.  Besar sekali. 
            “Hiii..., itu apa?” tanya Andrina.    
            “Ja...jangan...,” teriak Ari mundur selangkah.  Tetapi bayangan gelap itu terus maju mendekati Ari.
            Bulu kuduk Andriana dan Ari berdiri.  Mereka memejamkan mata.
            Cut!”  teriak Om Heru, sutradara.  Dan lampu-lampu dihidupkan kembali. 
            Semua asisten Om Heru bertepuk tangan.  “Baguuus...  Tadi acting-nya bagus,” seru mereka. 
            “Wah, lega...  Shootingnya sudah selesai,” kata Ari tersenyum.
            “Belum.  Besok shooting bagian terakhir.  Di taman,” kata Om Heru. 
            “Kok Om lama sekali teriak cut?  Aku tadi takut sekali,” protes Andriana.
            “Ah, masak takut dengan kilat dan guruh?  Mereka kan tidak bisa memarahimu.”            
            Andriana, Ari dan seluruh asisten Om Heru tergelak, “ Hahahaha..."

Dimuat di BOBO 46 XXXIX 23 Februari 2012