Sunday, August 25, 2013

Four Is Enough


Squirrel promised to bring Monkey some guavas, but Foal wanted guavas, too. What did Squirrel do?

Title: Four Is Enough
Author: Uncu Nana
Magazine: C'nS Junior Edition 19 Volume XI August 2013

Friday, August 23, 2013

Kembang Api Lempar



            Ari membereskan sarung yang baru dipakainya untuk sholat taraweh.
            “Ri… Ari!”
            Ari menoleh. “Apaan?”
            Fuad berlari dari pintu mushola.  “Ke lapangan, yuk?  Beli petasan,” kata Fuad sambil menyampirkan sarung ke pundak.
            Ari mengecek koin yang ada di saku celana.  Ia menghitung jumlah uang dengan cepat sebelum menjawab, “Ayo!” Ari dan Fuad berjalan penuh semangat menuju lapangan di dekat mushola. Dari mushola sudah terdengar berbagai bunyi letusan petasan. Langit malam pun penuh dengan aneka warna kembang api.
            Ari dan Fuad menghampiri penjual petasan yang duduk di dekat pohon nangka. Sebuah lilin pendek yang menyala terletak di atas keranjangnya.  “Mang, petasan putar.  Dua,” kata Fuad.
            Penjual itu mengangkat lilin, lalu menyibakkan lembaran kertas koran yang menutupi isi keranjang.  Ia mengambil dua kotak kembang api. “Petasan abis.  Sisa kembang api yang biasa.  Mau?”
            “Yah…  Cepet amat abisnya, Mang,” keluh Fuad.
            Penjual itu tersenyum.  ”Mau?” ulangnya.
            Fuad memberikan selembar uang kertas kepada penjual.  ”Satu aja,” jawab Fuad sambil mengambil satu kotak kembang api.  Ia mengeluarkan satu tangkai kembang api dan langsung membakarnya.
            Fuad berlari ke tengah lapangan dan mengambil ancang-ancang.  Lengan kanannya berputar dua kali dengan cepat dan ... SUUUT.  Kembang api melesat ke udara. Fuad bertepuk tiga kali dan kemudian dengan tangkas, Fuad menangkap tangkai kembang api. 
            Ari dan anak-anak lain di lapangan bertepuk tangan dengan meriah.  Fuad tersenyum. Ia meletakkan tangan kanan di dada sebelah kiri dan membungkuk, seperti matador selesai bertarung. Kemudian ia mendekati Ari.
            ”Keren, lho,” puji Ari.
            ”Coba aja, Ri. Pasti juga bisa.”
            Ari langsung mendekati penjual kembang api. “Mang, kembang api satu.” Ari menyerahkan beberapa koin.
            “Semua aja. Tinggal tiga nih,” jawab penjual kembang api. Ia memiringkan keranjang yang ditutupi potongan kertas koran. Di dalamnya tampak tiga kotak kembang api. 
            “Satu aja, Mang.” 
            “Enggak tiga aja?  Biar setelah ini Mamang bisa langsung pulang,” bujuk penjual.
            Ari mengitung sisa koin yang ada di saku celana. Sejenak ragu, Ari mengembalikan koin ke dalam saku celana. “Enggak, Mang. Ini buat beli tahu goreng, pesanan Bapak.” Setelah menerima satu kotak kembang api, Ari menyalakan satu tangkai kembang api. Ia kemudian menuju ke tengah lapangan. 
            “Ayo, lempar ke atas, Ri,” teriak Fuad.
            Ari mengayunkan lengan kanan sekali tetapi ia tidak melemparkan kembang api. “Susah, Fuad.  Ragu.”
            Fuad tertawa. “Nih lihat.” Dengan lihai, Fuad memutar-mutar dan melemparkan kembang api ke udara. Kemudian dengan tangan kiri, Fuad menangkap tangkai kembang api. Sekali lagi, anak-anak yang menonton Fuad langsung bertepuk tangan meriah.
            Ari mengamati dengan teliti cara Fuad memutar kembang api. Seru.
Akhirnya ia mengeluarkan satu tangkai kembang api dan menyalakannya. 
            “Ayo, Ri.  Putar,” kata Fuad yang telah selesai memainkan kembang api.
            Ari langsung memutar-mutar tangkai kembang api. Mula-mula pelan dan kemudian tangkai kembang api diputar lebih cepat. Beberapa percikan api kecil mengenai kulitnya. Hanya perih sedikit. Tidak sebanding dengan riuhnya sorakan dari anak-anak yang mengelilinginya. 
            Ari tersenyum bangga. Setelah satu tangkai kembang api habis terbakar, Ari mengambil satu tangkai kembang api dari kotak.
            “Dilempar ke atas, Ri,” desak Fuad.
            “Hmm, gampang. Cuman perlu keberanian aja,” pikir Ari. Ia mengeluarkan satu lagi kembang api dari kotak dan langsung menyalakannya.  Ari mengambil ancang-ancang dan ssstttt, kembang api itu dilempar ke atas.  Tangan kanan Ari dengan sigap menangkap tangkai kembang api.
            Anak-anak yang mengelilinginya langsung bertepuk tangan. “Lempar lagi. Lempar lagi...,” teriak mereka.
            Ari mengambil ancang-ancang. Ssstttt, satu kembang api sudah dilempar ke atas. Cukup tinggi. Tetapi, lemparan itu miring sehingga kembang api mengarah kepada penjual kembang api. 
            “Mamang... awas!” teriak anak-anak serentak.
            Penjual menghindar dengan cepat, tetapi sikunya menyentuh lilin yang menyala. Lilin itu berguling ke dalam keranjang dan apinya langsung menyambar kertas koran.  Dan beberapa detik kemudian, dua kotak kembang api yang ada di dalam keranjang ikut terbakar. Pijarnya menyala terang di dalam keranjang!
            Penjual kembang api  itu terdiam. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
            “Yah, dagangan Mamang itu hangus,” kata beberapa anak. Mereka menunjuk penjual kembang api.
            “Kamu sih melemparnya miring. Harusnya tegak ke atas,” tegur Fuad.
            Ari merasa bersalah.  Didekatinya penjual kembang api itu. “Mang, maaf. Gak sengaja.” Ari menyerahkan sisa koin. Lenyap sudah bayangan ia membawa tahu goreng pulang. 
             “Terima kasih.”  Penjual itu tersenyum.  “Akhirnya, laku juga dagangan Mamang.” 
            Dalam perjalanan pulang, Ari sudah membayangkan ceramah Bapak yang akan diterimanya nanti.  Intinya sih, Ari harus ingat, api bukan mainan.


Judul: Kembang Api Lempar
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 18 XLI 8 Agustus 2013