Friday, January 31, 2014

Why?

Monkey was upset when his friends avoided him. Why? What did he do wrong?
Title: Why?
Author: Uncu Nana
Magazine: C'nS Junior Edition 24 Volume XI January 2014

Wednesday, January 29, 2014

Ketika Amay Bertugas





Raja Zhorifiandi dan Paman Patih dari negeri Kalomolomo mendadak harus mengunjungi negeri lain. Untuk mengurus negeri Kalomolomo selama kepergiannya, Raja Zhorifiandi menugaskan Amay.
Penduduk Kalomolomo mula-mula bertanya-tanya tentang penunjukkan Amay. “Kenapa Amay?” tanya mereka. Tapi tidak ada satupun penduduk yang mengetahui alasan penunjukkan itu. Segera mereka melupakan pertanyaan itu karena mereka lihat Amay mau mendengarkan keluh-kesah penduduk. Sikap yang sama seperti Raja Zhorifiandi.
Suatu kali Cristin, pembuat perhiasan dari beling, menemui Amay. “Amay, aku sedang dalam kesulitan.” Muka Cristin muram. Ia seperti orang paling malang di negeri Kalomolomo.
“Ada apa?” tanya Amay penuh perhatian.

Cristin mengeluhkan penduduk yang tidak menggunakan barang-barang dari kaca. Sehingga mereka tidak mungkin lagi memecahkan barang-barang kaca dan membuang beling. “Kalau begini terus, bagaimana bisnisku?” keluh Cristin. “Masa aku harus memecahkan piring-piringku sendiri?”
Pagi-pagi sekali Amay membuat keputusan yang langsung dibacakan oleh Dani, petugas istana. Bunyi keputusan itu mengharuskan penduduk negeri Kalomolomo menggunakan barang-barang dari kaca.
Penduduk mula-mula kaget mendengar keputusan itu. Tetapi mereka menuruti keputusan yang dibuat Amay. Pasti Amay bermaksud baik, pikir penduduk.
Selang dua hari, Tabib Eko tampak terburu-buru datang ke tempat Amay. “Amay, bagaimana ini?” tanya Tabib Eko.
“Bagaimana apa?” tanya Amay bingung.
Tabib Eko menepuk jidat ketika menyadari ia belum menyampaikan masalahnya. “Begini. Aku harus pergi jauh membawa banyak obat. Kalau semua obat dibawa dalam botol kaca, keledaiku tidak akan sanggup mengangkutnya. Aku juga kahawatir botol-botol itu akan pecah,” jelas Tabib Eko. “Ijinkan aku menggunakan botol plastik.”
Amay yang selalu mendengar keluh-kesah penduduk akhirnya mengijinkan Tabib Eko menggunakan botol plastik. Amay juga tidak lupa menugaskan Mahdany, petugas istana, untuk membacakan keputusan baru. Penduduk diharuskan menggunakan botol plastik.
Penduduk kembali bertanya-tanya alasan keputusan itu. Tetapi mereka belum sempat bertanya karena masih disibukkan urusan di kebun dan sawah.
Empat hari kemudian, Faisal mendatangi Amay. Faisal membawa lima karung besar.
“Apa itu?” tanya Amay.
Sebelum sempat menjawab pertanyaan Amay, Faisal menangis tersedu-sedu. “Amay, bantulah. Aku sungguh-sungguh terpuruk.”
“Tenanglah,” bujuk Amay.
Setelah menghapus air mata yang membasahi muka dan baju, Faisal bercerita. Sejak ada keharusan menggunakan barang-barang kaca, Faisal membuat berbagai macam botol kaca. Tetapi peraturan terbaru Amay membuat usaha Faisal bangkrut. Semua penduduk memakai botol plastik. Tidak ada lagi pembeli botol kaca.
Amay mendengarkan keluhan Faisal dengan penuh perhatian. Bahkan, ia turut menitikkan air mata. “Sekarang pulanglah. Esok akan ada peraturan baru,” janji Amay.
Benar saja. Pagi-pagi sekali, Mahdany mengumumkan keputusan terbaru Amay. Penduduk negeri Kalomolomo harus membeli botol kaca dari Faisal.
Faisal bahagia sekali mendengar keputusan ini. Ia sampai melompat-lompat dan tertawa tanpa henti.
Bagaimana dengan penduduk lain? Ternyata mereka sudah tidak tahan lagi dengan keputusan yang selalu berubah-ubah. Secara bersama-sama mereka mendatangi Amay yang sedang duduk di bawah pohon kecapi.
“Amay, kita semua jadi pusing. Setiap saat ada keputusan baru,” kata Fahmy dengan suara menggelegar.
“Jangan bikin keputusan-keputusan lagi,” kata Mus.
“Keputusan sudah banyak. Cukup itu,” kata Hasmyati. “Bikin susah saja.”
“Jangan ganti-ganti lagi, May. Repot,” tambah Olvi.
Amay mendengarkan keluhan penduduk satu persatu. Ia sangat menyesal telah membuat mereka susah.
Untuk mengungkapkan penyesalannya, Amay tidak mengeluarkan satu keputusan pun hingga Raja Zhorifiandi kembali. Tetapi Amay merasa itu belum cukup menunjukkan penyesalannya. Apalagi pesan Olvi selalu terngiang-ngiang. Akhirnya Amay melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sejak saat itu ia tidak pernah mengganti baju yang dikenakannya.
Penduduk Kalomolomo sedih melihat keadaan Amay. Akhirnya mereka kembali mendatangi Amay. Mereka membujuk Amay untuk mengganti baju yang sudah sangat kotor dan bau.
“Amay juga boleh kok buat keputusan baru,” kata Mus ragu-ragu.
“Tapi diskusikan dulu dengan kita semua,” tambah Fahmy.


Judul: Ketika Amay Bertugas
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 41 XLI 16 Januari  2014


Monday, January 13, 2014

RENCANA SEMPURNA



           
            “Besok mancing, yuk?” ajak Abdul saat jam istirahat sekolah. “Ikan di sungai dekat rumah Pak Lurah besar-besar. Kemarin aku lihat ada yang dapat sebesar ini.” Abdul menunjukkan pangkal lengannya. “Mana tempatnya adem. Ada pohon jambu besar.”
            “Aku ikut,” jawab Arif cepat. “Nanti kubuatkan umpan yang manjur. Sekali nyemplung, tuh umpan pasti langsung dilahap ikan.”
            Krisna tidak berkomentar.
            Abdul dan Arif saling berpandangan. “Ikut, enggak?” tanya Arif sambil menyikut lengan Krisna.
            Krisna menarik napas panjang sebelum menjawab. “Mau sih. Tapi pancingku patah,” jawab Krisna pelan.
            “Beres. Kamu pakai pancingku saja. Aku punya tiga,” kata Abdul.
            Hari Kamis besok, mereka tidak sekolah karena tanggal merah, perayaan hari Isra Mi’raj. Mereka bertiga melanjutkan rencana memancing esok hari hingga bel tanda akhir jam istirahat berbunyi.
            “Jadi besok kumpul di rumahku pagi. Jangan telat,” kata Abdul kepada Arif dan Krisna sembari jalan menuju kelas.
            “Beres!” teriak Arif dan Krisna, menuju bangku masing-masing.
            Menjelang akhir jam pelajaran agama, Pak Iskandar membagi murid-murid ke dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga murid. Abdul, Arif dan Krisna berada dalam satu kelompok. Tetapi sama seperti murid lainnya, mereka bingung.
            “Kita mau dikasih tugas apa sih?” bisik Arif.
            Krisna mengangkat bahu. Jari telunjuk ia letakkan di depan mulut, meminta Arif diam.
            “Anak-anak,” kata Pak Iskandar. “Besok hari Isra Mi’raj. Banyak mesjid dan musola yang mengadakan ceramah. Tugas kalian mendatangi mesjid yang di sekitar rumah dan mendengarkan ceramah. Kalian catat ceramah itu dan kumpulkan hari Jumat.” Pak Iskandar memandang seisi kelas. “Ada yang mau ditanyakan?”
           
            Arif dan Krisna tertunduk lemas. Sedangkan Abdul meninju-ninju ransel karena gemas.
Tak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi.
“Rencana kita gagal,” keluh Arif dalam perjalanan pulang bersama Abdul dan Krisna.
“Eh, siapa bilang?” seru Abdul. Matanya berkilat-kilat. “Kita tetap mancing besok. Soal tugas dari Pak Iskandar, serahkan aku saja.” Abdul menepuk dadanya. “Aku punya rencana sempurna.”
Esok hari, Arif dan Krisna menjemput Abdul di rumahnya. Selain perlengkapan memancing, mereka juga membawa bekal makan siang. Sambil bernyanyi-nyanyi, mereka menuju sungai.
Sampai di sungai, mereka melihat seorang pemancing, duduk di bawah pohon jambu.
“Kita terlambat. Tempat favorit sudah terisi,” keluh Abdul. Mereka akhirnya duduk di tempat yang terpapar sinar matahari langsung.
Abdul, Arif dan Krisna membongkar perlengkapan mancing. Arif dengan bangga menunjukkan umpan yang ia buat. “Kok warnanya gitu sih?” tanya Krisna bergidik karena jijik. Ia dan Abdul mengambil umpan milik mereka sendiri.
“Ini dari campuran kuning telur, cacing dan bahan rahasia lainnya.” Arif tersenyum misterius. Ia memasang umpan pada mata kail.
“Apaan?” tanya Abdul dan Krisna bersamaan.

“Yeee, kan tadi sudah dibilang. Bahan rahasia. Tidak akan kuberi tahu.” Arif melempar mata kail ke dalam sungai. Dan benar saja. Dalam hitungan sepuluh, umpan Arif sudah dimakan ikan.
Melihat hasil pancingan Arif, Abdul dan Krisna mengganti umpan. Kini mereka menggunakan umpan buatan Arif. Umpan buatan Arif benar-benar manjur.
Setelah masing-masing mendapat delapan ekor ikan, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka tidak tahan berjemur di bawah sinar matahari yang terik.
“Eh, besok bilang apa ke Pak Iskandar?” tanya Arif di perjalanan pulang.
“Iya. Dari tadi cuman bilang ‘rencana sempurna’. Apaan?” tanya Krisna.
Abdul tergelak. “Bilang saja ban sepeda kita bocor.”
Arif menepuk lengan Abdul. “Eh, seisi sekolah juga tahu kalau aku enggak punya sepeda,” protes Arif.
“Kamu bonceng sepedaku. Jadi ban sepedaku dan sepeda Krisna yang bocor. Selesai tambal ban, ceramahnya sudah bubar,” jelas Abdul.
“Nah itu baru rencana sempurna,” kata Arif mengangguk-angguk.
***
            Sebelum masuk kelas, Abdul ditahan Arif. “Tadi kamu ditanya Pak Iskandar soal tugas yang enggak dikumpulkan?” tanya Arif dengan muka cemas.
            “Iya,” jawab Abdul pelan. “Pak Iskandar tanya ban yang bocor. Aku bilang ban depan…”
            “Aku bilangnya ban belakang!” potong Arif.
            Krisna menepuk jidat. “Ya ampuuun!”
            “Itu makanya. Dia tahu kita bohong. Ini hukumannya,” kata Abdul sambil mengangkat tiga lembar kertas. “Tugas yang musti kita kerjakan. Besok kumpul.” Abdul membagikan kertas tugas dari Pak Iskandar kepada Arif dan Krisna.
            “Ternyata tidak ada rencana sempurna untuk bohong. Pasti ketahuan,” kata Krisna sambil terus menepuk-nepuk jidat.

Judul: Rencana Sempurna
Penulis: Erna Fitrini
Majalah: BOBO 39 XLI 2 Januari  2014

Thursday, January 9, 2014

Teman Baru

Berkisah tentang pertemanan Aquana dan Akon yang dianggap anak aneh karena sering menghilang. Ternyata Akon menemukan tempat menakjubkan dan bersedia mengajak Aquana ke tempat itu. Beranikah Aquana pergi bersama Akon?

Judul: Teman Baru
Penerbit: Rainbow (imprint Penerbit ANDI)
Tanggal terbit: Desember 2013
ISBN: 978-979-29-4100-5