Ini
menjadi perjalanan tugas kantor yang menyenangkan karena bisa disisipkan wisata
kuliner yang seru-seru. Terlebih karena lokasi hotel Best
Western Plus Makassar Beach, tempat kami menginap dekat Pantai Losari dan
Kawasan Kuliner Makassar. Ehemmm.
Hari pertama
di Makassar, tujuan kami ke Lae-lae di Jalan Datu Museng. Masih teringat
kunjungan pertama ke sini, bertahun-tahun silam. Tempat makannya terbatas dan
sebagian tamu duduk di dalam bagian rumah. Restoran besar di seberangnya yang
menyajikan makanan serupa, menjadi kompetitor nyata. Ah, tapi itu dulu.
Sekarang restoran besar di seberang Lae-lae tampak sepi. Lae-lae sendiri sudah
mengalami perubahan. Areal makannya menjadi lebih luas, dengan penampakan
terbuka. Dua tandan pisang tergantung di dekan pintu masuk, seperti dulu juga. Eh,
yang dinamakan pintu masuk itu sebenarnya pintu pagar.
Pesanan kali
ini agak-agak kalap. Dua ekor ikan, cumi dan telur ikan plus sayur-sayur untuk
kami berempat. Ikan bakar dan goreng. Yang pertama kali muncul setelah air
minum adalah sambal. Tiga jenis sambal untuk setiap tamu disajikan dalam tiga
mangkok alumunium di atas baki plastik. Ada sambal tomat, terasi dan satu lagi
sambal yang terasa tauco.
Pesanan
selanjutnya yang tiba di meja sayur, berikutnya baru pesanan utama. Aroma
ikannya meruap kemana-mana, terlebih karena tamu-tamu lain juga pesan menu yang
serupa. Tentu saja! Di Lae-lae ini sajian utamanya ikan dan sahabat
karibnya.
Cumi asam
manis datang dengan aroma yang berbeda. Cumi yang telah digoreng dituangi saos
asam manis yang terasa sarat jeruk, menambah segar rasa makanan ini.
Sayang, perlu sedikit perjuangan untuk mengunyah cumi ini.
Telur ikan
diolah dengan potongan cabe, tomat dan bawang. Satu porsi bisa dinikmati
beramai-ramai. Agak berjuang kami menghabiskan makanan yang ada. Hingga
akhirnya, telur ikan, kangkung dan sambal yang tersisakan.
Kapan punya
kesempatan ke sini lagi?
Menjelang maghrib, kami tiba di hotel Best Western Plus Makassar Beach, nama yang lumayan panjang. Lokasi hotel ini dekat dengan Pantai Losari yang ngehits di Makassar, trus juga ada Kawasan Kuliner Makassar. Pas deh.
Selagi petugas mengurus reservasi empat kamar, kami berempat mendapat welcoming drinks. Warna kuning pucat dan rasa segar. "Ini markisah," info saya kepada teman-teman. "Bukan ah, ini kayak nanas," bantah temanku. Petugas yang dekat kami meluruskan info. Ternyata minuman segar itu jus nanas. Hihihi, lidah oh lidah.
Reservasi beres, kami mendapat kunci untuk kamar-kamar di lantai 7. Kamar menghadap ke jalan raya, kala itu tidak tampak pemandangan seru, selain atap-atap bangunan. Ukuran kamar luas dengan lantai kamar yang dilapisi kayu. Ini favorit saya, daripada lantai karpet yang penuh debu. TV layar lebar menggantung di dinding, menghadap tempat tidur. Lemari, safety box, kulkas dan peralatan lainnya tersedia di kamar.
Sarapan disediakan di lantai 3. Banyak pilihan, dari yang standar seperti bubur ayam, nasi goreng, sosis, kentang, hingga makanan khas, seperti candil, bubur sumsum, jamu. Iya, jamu. Terakhir saya melihat jamu disediakan di hotel di Yogyakarta, tapi ini Makassar. Wow.
Kegiatan kami selama beberapa hari dilakukan di ruang pertemuan lantai 1 dan 2. Petugas mudah dijumpai luar ruangan, sehingga urusan minta-minta tolong jadi lancar. Ruangan yang tenang dengan corak karpet yang unik dan warna terang. Corak ini sempat ditanyakan ke teman yang asli Makassar. Katanya sih, ini emang corak khas Makassar.

Malam terakhir, saya punya janji dengan teman untuk bertemu di Mie Titi, Jalan Datu Museng. Sebenarnya lokasi itu bisa dijangkau dengan jalan kaki saja, tapi karena hujan rintik saya pilih alternatif lain. Petugas hotel yang berdiri di pintu membantu mencarikan taksi, tapi kemudian ia datang lagi dengan ide seru, "Naik becak saja, gimana?" Ah, itu tawaran yang tidak akan saya tolak, lagian sudah lama tidak naik becak. Petugas itu langsung menghubungi tukang becak yang menunggu tidak jauh dari hotel. Ia juga memberikan arahan dan menanyakan harga ke tukang becak itu dalam bahasa yang saya tidak paham. Terakhir petugas itu mengatakan, "Silakan." Jempol deh buat cara petugas itu bantu tamu, maksudnya, sayah.
Duduk di becak Makassar memberi pengalaman seru lainnya. Tukang becak itu berani memotong jalan kendaraan di jalan raya dan berjalan melawan arus. Duh, pak'e! Pastinya dia sudah terbiasa dan pakai perhitungan jitu. Alhamdulillah tiba selamat di Mie Titi.