Wednesday, March 2, 2011

Kaus Jeruk Sunkist

KAUS JERUK SUNKIST

“Bu, ini untukku?” tanya Deyan. Deyan mengangkat satu bungkusan yang ditemukannya di atas tempat tidur.

“Iya,” jawab Ibu.

Deyan segera membuka bungkusan itu. Terasa empuk. “Hmm, ini pasti kaus,” kata Deyan. Sudah lama Deyan minta dibelikan kaus bergambar pesawat tempur, tetapi Ibu belum sempat pergi ke toko. Deyan menarik isi bungkusan dan terdiam melihat isinya. Ini benar kaus seperti yang dia minta. Ada gambar pesawat tempur. Tetapi… Ah, tidak. “Bu, kok…?” Deyan tidak meneruskan pertanyaannya.

Ibu memandang Deyan. “Kamu tidak suka?”

“Suka, Bu,” jawab Deyan buru-buru. “Kok warnanya jingga?”

Ibu tersenyum. “Hanya warna jingga itu yang ada untuk ukuranmu. Lainnya besar-besar. Banyak kok anak laki-laki yang memakai kaus jingga. Bagus juga.”

Deyan menunduk, memandangi kaus jingga ditangannya. Jingga menyolok, seperti warna jeruk sunkist. “Terima kasih, Bu,” kata Deyan pelan.

Deyan merendam kaus itu dengan air panas dan menjemurnya di halaman belakang. Deyan berharap warna kaus itu akan memudar. Sesekali dilihatnya kaus yang tergantung di tali jemuran. “Warnanya belum berkurang. Ini pasti karena kausnya belum kering,” pikir Deyan.

Ketika kaus itu selesai disetrika, Deyan bisa dengan jelas melihat kausnya di antara berpuluh-puluh baju yang disusun bertumpuk. Deyan kecewa. Warna kaus itu tidak berkurang sedikit pun.

Deyan punya ide baru. “Kalau tidak mau memudar, tentu warna ini bisa dibuat lebih tua sehingga tampak seperti warna cokelat,” pikir Deyan. Deyan memasukkan kaus itu ke dalam bak cuci bersama-sama dengan kaus kaki kotor yang habis dipakai main sepak bola. Kali ini, Deyan merendam kaus dan kaus kaki sehari penuh. “Kotoran di kaus kaki pasti akan pindah ke kaus,” pikir Deyan.

Esok hari, ketika membawa ember berisi kaus dan kaus kaki di halaman belakang, Deyan melihat Marco, tetangga sebelah rumah. Deyan mengurungkan niat untuk menjemur kaus kaki dan kaus. Warna kaus itu tidak berubah, tetap kaus jeruk Sunkist. “Nanti saja kujemur ketika Marco tidak ada. Marco pasti meledek kausku,” pikir Deyan.

Deyan menghampiri Marco yang sedang mencat pagar belakang. “Kubantu, ya?” tanya Deyan ketika melihat ada satu kuas yang tidak terpakai.

“Boleh,” jawab Marco sambil menyerahkan satu kuas ke Deyan. Marco dan Deyan bekerja dengan cekatan. Sebentar saja, seluruh pagar itu selesai dicat. Marco dan Deyan puas melihat hasil kerja mereka.

Setelah membereskan alat-alat cat dan cuci tangan, Deyan kembali ke halaman belakang rumahnya. Deyan berharap Marco segera masuk ke dalam rumah supaya Marco tidak melihat kaus Deyan.

“Kamu tadi mau menjemur?” tanya Marco sambil menunjuk ke arah ember yang berada di dekat kaki Deyan. “Sini, gantian kubantu.” Kali ini Marco menghampiri Deyan.

“Oh,...ah, gak usah,” jawab Deyan gugup. “Cuman sedikit kok.” Tetapi terlambat. Marco sudah berada dekat sekali dengan ember dan menarik kaus itu. Oh, tidak! Deyan melihat perubahan ekspresi di muka Marco. Matanya menyipit dan mulutnya terbuka lebar.

“Hahahha...” Marco tertawa hebat. Kedua tangannya melambai-lambaikan kaus itu. Perut gendutnya ikut berguncang.

Deyan menarik kaus itu dan melemparkannya masuk ke dalam ember.

Marco kaget. “Kausmu?” tanya Marco.

“Iya. Kenapa tertawa?” Mata Deyan melotot melihat Marco. Deyan tidak suka kausnya ditertawakan.

“Ku sudah lama cari kaus warna itu. Tetapi belum juga dapat. Ternyata malah kamu yang punya.” Marco meneruskan tertawanya. “Eh, boleh kupinjam?”

“Hah?” kali ini Deyan yang kaget. Otaknya berputar cepat. “Kita barter saja. Ini kaus baru. Belum pernah ku pakai.”

Marco mengangguk setuju. “Suka kaus warna apa?” tanya Marco.

“Biru, cokelat, hitam, hijau tua...”

“Eits, satu saja,” potong Marco.

“Iya...iya.” Deyan mengangguk-angguk, membayangkan kaus baru dari Marco. “Ah, untung bisa berpikir cepat,” gumam Deyan tersenyum.

No comments:

Post a Comment